Berita > Seputar TKI
Pencairan Klaim Asuransi Telat, Rumah Suparman Hampir Melayang
23 Jan 2016 02:24:00 WIB | Abdul Hadi | dibaca 1905
Ket: Pencairan Klaim Asuransi
Foto: Abdul Hadi

Bandung, LiputanBMI - Suparman (50 tahun), warga Kabupaten Karawang Kecamatan Tirta Jaya Desa Sukamakmur adalah salah satu ahli waris dari almarhumah Sri Muryaningsih binti Muryanto yang hampir menjadi korban akibat Permen Kemenakertrans No. 1 tahun 2012 pasal 26 ayat 5 dilanggar oleh konsorsium asuransi. Suparman hampir menjual rumah yang dia tinggali guna membayar hutang bekas biaya pengobatan (alm) Sri Muryaningsih isteri tercinta.

Dalam keterangannya kepada tim LiputanBMI, Suparman menjelaskan, “jika klaim asuransi yang saya ajukan tidak cair, saya harus menjual rumah saya untuk membayar hutang bekas pengobatan isteri saya yang menghabiskan biaya pengobatan kurang lebih 40 juta, dan itupun semuanya uang pinjaman dari orang,” tandasnya

Sri Muryaningsih diberangkatkan oleh PJTKI BAKHTIR IKHWAN ke Oman pada tanggal 13 Februari 2015. Setelah bekerja sekitar lima bulan di sang majikan (Ahmad Salim Sadid al-Azkawy), Sri mengalami sakit dan akhirnya dipulangkan pada tanggal 09 Juli 2015.

Setelah sampai di Indonesia, kemudian Sri dirawat di RSUD Karawang (13 Juli 2015), tanggal 21 Agustus 2015 pengobatan Sri Muryaningsih dipindahkan ke RSUD Tarakan Jakarta.

Upaya dari pihak keluarga terutama sang suami untuk mengobati Sri Muryaningsih berusaha semaksimal mungkin, namun Allah SWT. berkehendak lain, Sri menghembuskan nafas terakhir di rumah kediaman pada tanggal 17 September 2015.

“Saya panik dan bingung ketika isteri saya pulang, karena ngga tahu kemana saya harus mengadu, beruntung saya kenal kang Nanang dari BMI-SA (Buruh Migran Indonesia-Saudi Arabia) yang ikut membantu saya dalam mengurus hak-hak almarhumah,” ungkap Suparman.

“Tidak ada satupun yang membantu saya, baik sponsor, PJTKI ataupun perwakilan negara ketika isteri saya tiba di Indonesia dalam keadaan sakit, bahkan sampai isteri saya meninggal pun tidak ada yang peduli”, tambahnya.

A Rukmana yang lebih terkenal dengan sebutan Nanang Karawang yang aktif di LSM BMI-SA, membantu Suparman dalam pengurusan pencairan klaim asuransi.

“Saya sangat menyayangkan sikap pihak asuransi yang super lelet dalam pencairan klaim asuransi, ini ngga ada duit apa gimana? Baru bisa cair setelah hampir satu bulan setengah", tegas Nanang

Kepala BP3TKI Bandung, Delta, SH. MM., ketika ditemui tim liputanBMI di kantornya jl. Soekarno Hatta menjelaskan perihal keterlambatan ini. “Inti dari proses asuransi adalah bahwa BP3TKI, negara dalam hal ini posisinya berada di pihak tertanggung, sama dengan TKI, keluarga TKI atau yang dikuasakan, posisinya sama” papar Delta.

"Keterlambatan ini yang menjadi penyakit pelayanan asuransi, dan akan kita evaluasi! Kalau saya dari dulu selalu mengatakan ketika negara sudah memastikan ada informasi meninggal melalui fax, melalui surat, cukup eksekusi jangan tanya-tanya lagi yang lain. Cairkan uangnya, lalu bisa disusulkan segala persyaratannya. Jangan begitu di-send by process ditanya ini itu dulu baru dieksekusi. Negara sudah bertanggung jawab mengeluarkan berita menyatakan itu meninggal,” pungkasnya.
Editor: RedEx (23/01).
(HDI, 23/01)

Universitas Terbuka Riyadh
-