Berita > Seputar TKI
Tipu dan Eksploitasi 500 Orang Sesama Indonesia, PMI Kaburan Ini Divonis 1,4 Tahun Penjara
15 Jan 2020 22:49:08 WIB | Hani Tw | dibaca 5458
Ket: Tipu dan Eksploitasi 500 Orang, PMI Kaburan Ini Hanya Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara
Foto: Liberty Times Net
Taichung, LiputanBMI - Ati (nama samaran) selama 15 tahun menjadi kaburan di Taiwan, akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 4 bulan oleh pengadilan Taichung atas kasus penipuan dan eksploitasi terhadap 500 orang sesama warga Indonesia.

Sebagaimana dilansir media Liberty Times News, Rabu 15 Januari 2020, kasus tersebut terungkap setelah salah seorang korban bernama Didi (nama samaran) melaporkan Ati karena merasa tidak tahan akan perlakuannya.

Menurut Didi, sesampaianya di bandara Taiwan ia dijemput dan dibawa ke pegunungan. Ia dimasukkan ke sebuah kamar berukuran tiga meter persegi kemudian dikunci oleh Ati. Bersama 20 orang korban lainnya, tinggal berdesakan di sana. Setiap hari hanya diberi makan 2 kali, satu keping roti dan mie instant yang dimasak kemudian dimakan bersama-sama.

Tidak hanya sampai disitu, Ati meminta uang yang katanya untuk biaya service sebesar NTD 5000 per orang dan mereka juga harus membayar biaya mess NTD 100 setiap harinya.

Tidak hanya sampai disitu, Ati yang bekerja sama dengan warga Taiwan sebagai sopirnya juga memeras tenaga para korban. Mereka hanya digaji NTD 20 hingga NTD 30 perhari, sisanya masuk ke rekening Ati yang kemudian dikirim ke Indonesia untuk membangun rumah mewah dan mendirikan toko untuk anaknya.

Saat dilakukan penggerebekan, dari catatan buku dan ponsel Ati, petugas menemukan sebanyak 500 orang yang sudah menjadi korban selama tiga tahun terakhir.

Adapun dalam menjalankan bisnisnya, sebagai sasaran utama adalah para PMI kaburan. Selain itu, Ati bekerja sama dengan beberapa orang dan perusahaan jasa travel di Indonesia untuk mendatangkan korban dengan menggunakan visa turis atau visa pelajar dengan iming-iming bisa bekerja sambil kuliah serta mendapatkan beasiswa.

Korban adalah orang-orang yang berasal dari desa yang belum pernah datang ke Taiwan. Mereka percaya dengan janji dan iming- iming yang ditawarkan kalau bisa bekerja sambil kuliah serta mendapatkan beasiswa.
Ada sebagian yang rela menjual ladang, menjual ternak atau bahkan mencari pinjaman ke sana kemari untuk membayar biaya NTD 200.000 supaya segera bisa berangkat.

Namun semua hanyalah akal-akalan semua, sesampainya di Taiwan bukannya bekerja atau kuliah, akan tetapi hasilnya mereka malah terlunta-lunta.
(HNI/IYD, 15/01)
Universitas Terbuka Riyadh
-