Berita > Opini
PMI Overstayer di Saudi Mengaku Sedih, Cukai Naik dan Cargo Barang Harus Pakai Iqamah
15 Jan 2020 17:02:38 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2939
Ket: ilustrasi jasa ekspedisi
Foto: google
Jeddah, LiputanBMI - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) overstayer di Jeddah, Arab Saudi, sebut saja namanya Nurul (48) yang sudah belasan tahun mengadu nasib sebagai pekerja rumah tangga menceritakan keresahannya terkait sulitnya mengirimkan barang cargoan ke Indonesia.

Perempuan asal Indramayu itu menghidupi kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah SMA dan SLTP. Ruang gerak Nurul di negara orang sangat terbatas, bisa kapan saja terkena deportasi, sulit untuk bepergian ke luar dari penampungan (istilah kontrakan untuk PMI ilegal) karena khawatir tertangkap razia di jalan.

Pekerjaan Nurul sehari-harinya sebagai pekerja rumah tangga yang dibayar per jam (SR25/jam atau setara Rp95 ribu). Untuk pergi ke tempat pelanggannya Nurul biasa diantar sopir taksi langganannya yang sudah dia kenal, kebetulan sang sopir taksi adalah orang Indramayu juga tapi nasibnya lebih baik karena  statusnya PMI resmi.

Uang yang Nurul kumpulkan setiap bulan juga dikirim lewat sang sopir taksi tersebut mengingat untuk PMI overstayer tidak bisa mengirim uang langsung lewat bank.

Setiap bulannya tidak kurang dari SR2,000 atau setara Rp7,8 juta uang yang dikirim Nurul ke orang tuanya untuk biaya hidup di kampung dan sisanya ditabung.

Nurul harus membiayai anak-anak sekaligus orang tuanya yang sudah tua, sedangkan suaminya tidak jelas dimana rimbanya.
Target nurul tinggal dan bekerja di Saudi sampai anak-anaknya lulus kuliah agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari dirinya.

Sebagai single parents, selain mengirimkan uang, Nurul juga biasa mengirimkan barang-barang (cargo) ke Indonesia melalui jasa ekspedisi yang betebaran di kota Jeddah, dengan harga yang cukup terjangkau 1kg SR9l (Rp35 ribu) via udara dan SR6 (Rp 23 ribu) via laut.

Untuk mengirimkan barang sangat mudah, tinggal telepon petugas cargo langsung datang ke penampungannya (door to door service), tanpa ditanyai identitas, cukup dengan nama, alamat dan nomor telepon penerima.

Betapa senangnya Nurul, dalam waktu dua minggu barang sudah sampai ke Tanah Air. Sungguh sangat gembira anak-anaknya setiap barang datang,  saat membuka kiriman tidak lupa video call dengan ibunya. Anaknya selalu bilang “ibu kita mau unboxing seperti para youtuber” kelakar anaknya Nurul.

Nurul pun banyak menerima hadiah dari majikannya (pelanggan jasa jam-jaman), ada yang memberi pakaian bekas layak pakai, sampai alat-alat rumah tangga seperti kompor, kulkas dan alat dapur lainnya, bahkan tidak jarang Nurul mendapatkan hadiah barang baru seperti televisi atau HP saat lebaran tiba, langsung dia kirim ke keluarganya di Tanah Air.

Hiburan nurul saat waktu senggang adalah menonton televisi dan internet di HPnya, biasa di penampungan mereka patungan untuk biaya bulanan internet. Internet biasa mereka gunakan untuk streaming dari televisi atau HP.



Di Tanah Air banyak berita penyelundupan barang dari luar negeri, dimulai dari narkoba sampai barang mewah lainnya. Aparat bea cukai mulai meningkatkan pemeriksaan di pintu-pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan.

Berita mulai tertangkapnya penyelundupan barang mewah baik di bandara dan pelabuhan banyak beredar, Nurul tidak menyangka peristiwa itu berimbas ke PMI seperti dia. Bahkan dari berita yang dibacanya untuk pembelian barang online mulai dikenakan pajak yang tadinya minimal USD75 sekarang diturunkan menjadi hanya USD3 sudah kena pajak.

Sepertinya pemerintah menargetkan rakyat kecil, karena mungkin untuk pengusaha besar sulit tersentuh. Apalah daya, ternyata peristiwa yang biasa dilihat di TV bisa mempengaruhi pengiriman barang cargoan PMI seperti Nurul.

Saat ini sudah mulai diberlakukan untuk pengiriman barang PMI harus melampirkan foto copy iqomah (identitas di Saudi) yang masih berlaku, dan yang membuat Nurul kaget, peraturan ini bukan dibuat oleh pemerintah Saudi Arabia, tetapi ini adalah peraturan dari pemerintah Indonesia (bea cukai).

Padahal status Nurul di Indonesia adalah WNI asli dan resmi, tapi rupanya pemerintahnya sendiri tidak berpihak kepada rakyat kecil seperti Nurul.

Ke depan, Nurul terpaksa harus meminta tolong kepada sopir taksi langganannya untuk mengirimkan barangnya ke Indonesia, tentu harus memberi imbalan atau ongkos kepada sopir taksi tersebut. Beban Nurul seperti semakin bertambah, kesal dan merasa diperlakukan sebagai warga negara ilegal di Tanah Airnya sendiri.
Beda lagi dengan Zainudin, TKI resmi asal bangkalan, Madura. Dia biasa mengirimkan barangnya ke Tanah Air, hampir setiap bulannya dia kirim barang karena majikannya kaya raya, punya banyak toko mebel dan karpet di pasar Mahmud Said, Jeddah.

Terkadang dia kirim mebel seperti lemari, kursi bahkan karpet untuk keluarganya di kampung. Tapi apa daya, peraturan dari bea cukai Indonesia, untuk TKI mulai sekarang tidak boleh kirim barang banyak-banyak dan tidak boleh sering mengirimkan barang pribadinya, karena dicurigai barang dagangan.

“Kenapa pemerintah selalu menyusahkan rakyat kecil seperti saya,” keluh Zaenudin kepada penulis.

Kenapa pemerintah tidak mengincar penyelundupan yang besar dulu. Apabila rakyat kecil seperti Zainudin yang mungkin ada niat menjual perabotan yang dikasih majikannya, tentu nilainya yang kecil sangat jauh bila dibilang usaha perdagangan.

Zainudin berharap pemerintah bisa mengkaji ulang peraturan yang cukup membuat PMI susah, apalagi peraturan ini dibuat oleh pemerintah Indonesia sendiri, adapun pemerintah Saudi tidak mengeluarkan kebijakan seperti itu.

Mana dukungan pemerintah untuk para PMI, pahlawan devisa hanya slogan saja. Mereka merantau pergi dari Tanah Air karena dikampungnya sulit mencari kerja.

Di negri orang kadang berhadapan dengan majikan yang tidak amanah, gaji tidak dibayar, waktu kerja melebihi standar, terkadang tempat tinggal tidak layak dan sekarang ditambah lagi peraturan-peraturan dari bea cukai Indonesia yang makin mempersulit ruang gerak para PMI, bahkan kesannya memeras PMI dengan pajak yang sangat memberatkan.

Mudah-mudahan pemerintah Indonesia menghapus peraturan-peraturan yang memberatkan warganya di luar negeri dan lebih memperhatikan nasib para PMI baik itu yang resmi ataupun overstayer.

Untuk teman-teman para PMI seperjuangan, baik itu yang di Arab Saudi, Timur Tengah atau di negara manapun, mari kita doakan agar para pemimpin kita diberikan taufik dan hidayah, dan kekuatan baik kekuatan pertahanan maupun perekonomian.

Semoga perekonomian negara kita membaik, dan negara mendapatkan penghasilan yang besar selain dari pajak sehingga negara tidak perlu lagi memeras keringat rakyat kecil seperti kita. Adapun mencaci-maki pemerintah bahkan demonstrasi yang anarkis bukanlah solusi melainkan menambah dalam jurang permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya. Doa adalah senjata kita semua, apabila setiap PMI berdoa apalagi dipanjatkan saat umroh di depan Kabah, insya Allah doa kita semua dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Penulis: Sutrisna
Editor: Iyad Wirayuda

(IYD/IYD, 15/01)
Universitas Terbuka Riyadh
-