Berita > Seputar TKI
PMI Lompat Dari Lantai 6, Majikan Taiwan Hanya Dituntut Rampas Kebebasan Privasi, Adilkah...
07 Oct 2019 22:43:36 WIB | Hani Tw | dibaca 2518
Ket: Majikan dari PMI yang jatuh dari lantai 6 mengajukan banding
Foto: Internet
Hsinchu, LiputanBMI - Majikan dari Ina (kasus jatuh dari lantai 6 pada bulan Juni lalu, red.,) oleh pengadilan dinyatakan telah melanggar hukum yaitu merampas kemerdekaan atau membatasi kebebasan seseorang. Namun majikan Ina yang bermarga Liu (劉男) masih mengajukan naik banding ke pengadilan.

Sebagaimana dilansir Liberty Time News (6/10/2019), keputusan tersebut disampaikan jaksa setelah memberikan beberapa pertanyaan kepada Liu yang mengaku sewaktu kejadian Ina mau melompat, Liu tidak memberikan bantuan darurat kepada Ina.

Masih menurut pengakuan Liu, saat itu ia mengunci pintu supaya Ina tidak bisa keluar. Kemudian ia melihat Ina membuka jendela dan memanjat pagar di balkon, Liu berusaha menjulurkan tangannya untuk meraih dan menahan Ina, tetapi Ina mendorongnya.

Liu juga melihat Ina pelan-pelan turun ke bawah, Liu mengira kalau Ina dalam keadaan aman, kemudian ia ke ruang tamu ngobrol dengan ibunya tanpa memperdulikan Ina lagi.

Tidak berapa lama, Liu mendengar suara barang jatuh, ia segera turun dan melihat Ina sudah tergelatak di lantai 1. Saat itu Liu memanggil 119 untuk segera membawa Ina ke RS. Thai Ta, Hsinchu.

Ina terluka parah di bagian kepala dan di rawat secara intensif di ruang ICU beberapa hari. Namun, karena ada gumpalan darah di kepala, selain lupa ingatan Ina juga tidak bisa berjalan secara normal sehingga tidak bisa bekerja.

Seperti diketahui, awal Juni lalu Ina yang kabarnya dilarang keluar untuk liburan pada hari Raya Idulfitri jatuh dari lantai 6 rumah majikannya di Hsinchu setelah bertengkar dengan majikan. Bukan hanya pada hari itu saja, sebelumnya majikan hanya memberikan Ina libur satu kali dalam sebulan, itupun tidak boleh lebih dari 12 jam sehari.

Ina sering mengadu dan mengirim foto-foto tentang perlakuan majikan kepada kakaknya, ia juga sering minta untuk pindah majikan, namun kakaknya hanya menyuruhnya bersabar.

Sementara itu, Louise Hwang, pengacara dari TCESIA ketika dihubungi koresponden LiputanBMI (7/10/2019) mengatakan, kasus seperti ini melanggar pasal tentang merampas kemerdekaan atau membatasi kebebasan seseorang bisa kena hukuman maksimal tiga tahun penjara.

“Untuk kasus seperti ini paling lama dihukum tiga tahun, jika dalam penjara berperilaku baik mungkin satu tahun saja sudah keluar. Tapi bagaimana dengan nasib Ina yang kehidupannya hancur tanpa kompensasi, “tegas Louise Hwang.
(HNI/IYD, 07/10)
Universitas Terbuka Riyadh
-