Berita > Seputar TKI
Hati-hati, Jual Beli Barang Gelap di Taiwan Bisa Dihukum Penjara Lima Tahun
04 Oct 2019 21:29:35 WIB | Hani Tw | dibaca 3418
Ket: Jual beli barang curian di Taiwan bisa kena ancaman hukuman 5 tahun penjara
Foto: united daily news
Taipei, LiputanBMI - Menurut hukum di Taiwan, bagi siapa saja yang melakukan jual beli barang hasil curian atau barang gelap bisa dihukum penjara maksimal 5 tahun penjara atau denda hingga NTD 500.000.

Bukan hanya hukuman penjara dan membayar denda, sanksi lainnya adalah setelah keluar dari penjara langsung di blacklist dan tidak diizinkan memasuki Taiwan selamanya.

Demikian dijelaskan pengacara, Muriel Yu kepada LiputanBMI (4/10/2019) yang saat ini sedang menangani kasus salah satu pekerja migran Indonesia (PMI), TYN karena membeli sepeda listrik hasil curian.

Menurut pengamatan Muriel Yu, orang Indonesia di Taiwan suka membeli barang dan setelah menggunakannya beberapa waktu kemudian menjualnya kepada sesama teman.

“Kebiasaan seperti ini sangat tidak dapat dipercayai bagi orang Taiwan, jadi hakim Taiwan akan berpikir bahwa ini adalah membeli dan menjual barang curian atau barang yang tidak jelas asal usulnya, “jelas Muriel Yu melalui pesan elektronik.

Lebih lanjut Muriel Yu mengatakan, jika Anda membeli dan menjual barang curian yang tidak dikenal di Taiwan, Anda bisa dihukum penjara hingga lima tahun, dan atau Anda akan didenda hingga NTD 500.000. Setelah keluar dari penjara, Anda akan langsung di deportasi dan tidak akan pernah diizinkan memasuki Taiwan lagi.

Seperti kasus PMI berinisial TYN, ia sudah tiga kali membeli sepeda listrik kepada teman sesama Indonesia juga, AJS dan kemudian menjual lagi kepada temannya.

Namun, TYN tidak menyangka, untuk pembelian yang ke tiga kalinya ia harus berurusan dengan hukum. Awalnya ia ditawari sepeda listrik oleh AJS. AJS mengatakan kalau pemilik sepeda akan pindah majikan meminta AJS untuk menjualnya.

Mendengar tawaran dari AJS, TYN tidak menaruh curiga sama sekali karena sebelumnya tidak ada masalah. TYN langsung menyetujui harga yang ditawarkan AJS mengingat barangnya masih bagus.

Tanpa disangka, bulan Maret 2019 ketika TYN sedang di mess tiba-tiba didatangi polisi dan langsung memborgolnya kemudian dibawa ke kantor polisi untuk dilakukan penyelidikan.

Melalui relawan PMI di Taiwan TYN dicarikan pengacara dari Taoyuan City Employment Service Institute Association (TCESIA) untuk mendampinginya jika ada sidang di pengadilan yang hingga saat ini kasusnya masih belum selesai.
(HNI/IYD, 04/10)
Universitas Terbuka Riyadh
-