Berita > Seputar TKI
KBRI Kuala Lumpur Dapat Penghargaan, tapi Pelayanannya Masih Banyak Dikeluhkan
13 Sep 2019 20:20:40 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 1130
Ket: KBRI KL terima penghargaan HWPA
Foto: FP KBRI KL
Kuala Lumpur, LiputanBMI - KBRI Kuala Lumpur menerima penghargaan Hasan Wirajuda Pelindungan Award (HWPA) 2019 untuk kategori Pelayanan Publik di Perwakilan RI. Penghargaan ini diberikan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

HWPA adalah penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sebagai bentuk apresiasi dan rasa terimakasih kepada mereka yang punya jasa besar dibidang perlindungan WNI, perlindungan badan hukum RI, dan pelayanan publik di luar negeri.

Meski mendapat penghargaan, sebenarnya selama ini WNI di Malayasia yang sebagian besar berprofesi sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) banyak mengeluhkan pelayanan di KBRI Kuala Lumpur.

Hal ini terlihat dari respon netizen ketika pihak KBRI mengunggah informasi tentang penerimaan penghargaan itu di Halaman Facebook Kedutaan Besar Republik Indonesia - Kuala Lumpur, Malaysia pada Kamis (12/9) malam.

Komentar netizen sebagian besar bernada negatif dengan membeberkan fakta yang bertolak belakang dengan keputusan juri yang menilai KBRI Kuala Lumpur telah melayani masyarakat dengan baik.

komentar netizen di FB KBRI KL
Ket. foto: komentar netizen di FB KBRI KL
Sumber foto: FP KBRI KL



Redaksi LiputanBMI juga sering mendapat aduan dari PMI di Malaysia yang disampaikan melalui inbok FP LiputanBMI tentang pelayanan permohonan pembaruan paspor dan permohonan pembuatan SPLP di KBRI Kuala Lumpur

Beberapa hal yang sering dikeluhakan WNI/PMI di wilayah kerja KBRI Kuala Lumpur antara lain soal pengambilan nomor antrean yang dimulai tengah malam, masih adanya pegawai yang kurang ramah dalam melayani masyarakat dan rumitnya proses permohonan pembuatan SPLP.

“Jika KBRI Kuala Lumpur mengatakan membuka pelayanan 24 jam, mestinya malam hari pun memberi pelayanan. Tapi nyatanya, yang antrean tengah malam itu hanya untuk ambil nomor. Pelayanannya tetap besok pagi harinya. Harusnya malam itu juga yang sudah dapat nomor langsung dilayani,” kata M Sucipto, PMI di Malaysia asal Lamongan, Jawa Timur.

Terkait masih adanya pegawai KBRI yang kurang ramah, seorang PMI asal Pamekasan bernama Aditya kepada LiputanBMI mengaku pernah mendapat perlakuan kasar ketika menguruskan paspor untuk anaknya beberapa bulan yang lalu.

“Menurut saya KBRI Kuala Lumpur masih belum layak dapat penghargaan. Dari segi pelayanan masih ada pegawai yang kurang sopan, seperti yang pernah saya alami. Masak pegawai KBRI bilang, ‘bukan saya butuh kamu tapi kamu butuh saya’. Kan bukan pelayanan itu namanya. Saya hampir berkelahi dengan pegawai KBRI waktu itu,” kata Aditya.

Permohonan pembuatan SPLP juga masih menjadi keluhan. Terutama pemohon SPLP dengan menggunakan KTP yang harus datang hingga tiga sampai empat kali dan baru jadi dalam kurun waktu hingga satu bulan, bahkan lebih.

“Saya datang ke KBRI mau urus SPLP pada Rabu (11/9) malam kemarin. Hanya dapat nomor. Suruh datang lagi tanggl 27 September. Pemohon SPLP yang menggunakan KTP atau KK ternyata untuk pengambilan nomor baru dilayani pagi hari. Saya datang malam hari tidak boleh masuk KBRI,” kata PMI asal Gresik bernama Khoirul ketika berbincang dengan LiputanBMI sepulang dari KBRI, Kamis (12/9).

(FK/FK, 13/09)

Universitas Terbuka Riyadh
-