Berita > Seputar TKI
Membanggakan Putri PMI Ini, Jadi Paskibraka 2019 di Istana Negara
25 Jul 2019 01:44:03 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 1171
Ket: Dhea Lukita Andriana (kerudung putih) di rumahnya yang sederhana di kecamatan Ngunut Tulungagung Jawa Timur, bersama Ibu kandung (kaos Biru) dan Kakeknya.
Foto: Kompas
Jakarta, LiputanBMI - Dhea Lukita Andriana (16), siswi SMA Negeri 1 Ngunut di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional di upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 mendatang.

Dhea adalah anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Tulungagung. Dia berhasil menyisihkan ratusan calon anggota Paskibraka lain dari seluruh Jawa Timur dan berharap tergabung dalam pasukan delapan.

“Ditempatkan di pasukan mana saja saya siap. Tapi harapan saya semoga bisa bergabung di pasukan delapan,” terang Dhea, Rabu (24/7/2019).

Siswi yang masih duduk di bangku kelas dua SMA Negeri 1 Ngunut Kabupaten Tulungagung ini sebelumnya tidak mengira bahwa dirinya akan terpilih menjadi anggota Paskibraka di Istana Negara.

“Sebelumnya tidak mengira bakal terpilih, kebanggaan bagi saya, karena membawa nama baik sekolah, Kabupaten Tulungagung, dan Provinsi Jawa Timur,” ujar Dhea.

Gadis yang hampir berusia 17 tahun ini sebelumnya sudah mempunyai cita-cita dan aktif sebagai anggota Paskibraka sejak masih duduk di bangku SMP.


Dhea menceritakan tahapan seleksi yang telah dijalani dan hingga akhirnya terpilih sebagai perwakilan provinsi Jawa Timur untuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka di tingkat Nasional.

Dhea berhasil menyisihkan ratusan calon anggota Paskibraka dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur.

Seleksi di tingkat provinsi sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu di Islamic Centre Surabaya, dan terpilih dua orang sebagai wakil provinsi Jawa Timur. Satu orang putra dari salah satu SMA di Kota Batu dan Dhea, mewakili putri.

Selama tahap seleksi, hal yang paling berat dirasakan Dhea adalah ketika memasuki tes kesegaran jasmani.

Meski dirasa paling berat, Dhea berhasil melakukan dan menyelesaikan tes itu dengan baik.

Hingga saat ini, Dhea rutin melakukan latihan sebelum berangkat ke Jakarta untuk karantina dan bergabung bersama anggota lain dari seluruh Indonesia.

“Sebelum ke Jakarta, saya rutin latihan. Utamanya latihan fisik, serta pengetahuan umum,” ujar Dhea.

Di lingkungan sekolah, Dhea dikenal sosok yang cerdas, mandiri, serta pantang menyerah.

Sejak awal masuk di SMA Negeri 1 Ngunut, Dhea sudah aktif di kegiatan paskibraka, serta kegiatan lain.

Terpilihnya Dhea Lukita Andriana sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional dinilai sebagai kado istimewa di hari ulang tahun SMA Negeri 1 Ngunut.

“Ini merupakan anugrah penghargaan yang luar biasa. Anak didik kami terpilih menjadi pengibar bendera di Istana Negara. Ini merupakan kado istimewa pada usia 35 Tahun SMA Negeri 1 Ngunut di tahun 2019 ini,” terang Wakil Kepala Kesiswaan SMA Negeri 1 Ngunut Ika Yuliatin.

Dhea merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Salim Rajun dan Nursiah.

Sejak umur 2 tahun hingga saat ini, ia ditinggal kedua orangtuanya mengais rejeki sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Ayahnya bekerja di Malaysia, sedangkan ibunya bekerja di Taiwan.

Selama ini, Dhea tinggal bersama kakeknya di Kecamatan Ngunut, Tulungagung Jawa Timur.

“Sejak umur 2 tahun Dhea tinggal diurus oleh kakungnya,” cerita Nursiah, ibu kandung Dhea.

Orangtua Dhea mengetahui anaknya terpilih sebagai anggota Paskibraka nasional ketika cuti kerja. Ketika tiba di Kedatangan Internasional Bandara Surabaya, sang ibu biasanya dijemput oleh beberapa saudara termasuk Dhea.

Pada saat penjemputan tersebut Dhea tidak ikut menjemput ibunya, dan mendapat kabar dari kakeknya bahwa Dhea lagi ikut tes paskibraka di tingkat Provinsi,hingga akirnya terpilih.

“Ketika tiba di Surabaya, saya tidak melihat Dhea. Kemudian kakeknya cerita kalau Dhea lagi ikut seleksi paskibraka,” ujar Nursiah.

Mendapat kabar tersebut, ibu kandung Dhea merasa bangga dan bersyukur atas terpilihnya Dhea sebagai anggota Paskibraka di tingkat nasional.

Sejak ditinggal bekerja di luar negeri, Nursiah selalu berdoa agar anaknya kelak menjadi sosok yang taat, berhasil, serta berguna bagi bangsa.
“Saya selalu berdoa, meski dari jauh. Dan rupanya doa kami terkabulkan,” ucap Nursiah dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Karena masih dalam ikatan kontrak kerja di luar negeri, ibu kandung maupun ayah kandung Dhea tidak bisa mengantarnya hingga ke Jakarta.

Dalam waktu dekat, orang tua Dhea harus kembali ke luar negeri untuk kembali bekerja.

Kakek yang merawat Dhea dari umur dua tahun juga tidak bisa mengantar karena sudah usia lanjut. Selain itu, kakek Dhea juga mengalami cedera di kaki akibat kecelakaan ketika mengantar Dhea hendak bertugas sebagai anggota Paskibraka di lapangan Rejotangan Tulungagung, ketika ia duduk di bangku SMP.

Rencananya, Dhea akan didampingi oleh saudara dari ibunya.

“Karena masih ada ikatan kontrak, saya harus tetap kembali ke Taiwan. Yang dampingi Dhea nanti Pakde dan Budhenya,” terang Nursiah.

“Saya berharap, semoga Dhea selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa dan mengabdikan tenaga dan pikirannya yang positif untuk negara (Indonesia) ini,” ujar Nursiah.

(Source: Kompas)

(JWD/JWD, 25/07)
Universitas Terbuka Riyadh
-