Berita > Seputar TKI
PMI Asal Semarang Penderita Kanker Usus Dipulangkan KJRI Jeddah
13 Jul 2019 07:03:57 WIB | Juwarih | dibaca 557
Ket: Kiri, PMI a.n Rubinah sedang dirawat di rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi. Kanan, Tim KJRI Jeddah Membawa Rubinah akan dipulangkan ke Indonesia di Bandara Jeddah.
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah telah membantu dan memfasilitasi kepulangan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Semarang, Jawa Tengah yang mengidap penyakit kanker usus, pada Kamis 11 Juli 2019.

PMI tersebut bernama Rubinah Widi Adam (Rubinah). Kepulangannya diantar langsung oleh seorang staf KJRI Jeddah, di karenakan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan melakukan perjalanan sendirian.

Berdasarkan Informasi yang berhasil dihimpun KJRI Jeddah, Rubinah diberangkatkan ke Arab Saudi dengan visa ziarah (kunjungan). Setelah 6 bulan bekerja dia minta kepada majikan untuk dipulangkan karena alasan sakit.

“Dia mengaku ditelantarkan oleh majikannya di Bandara Jeddah dengan alasan akan dipulangkan ke Indonesia, namun sang majikan malah menelantarkan Rubinah di Bandara,” tutur Mochamad Yusuf, Konsul Teknis Tenaga kerja KJRI Jeddah kepada LiputanBMI, Jum'at (12/7/2019).

Kata Mochamad Yusuf, awalnya saat bertemu di Bandara Jeddah ia langsung membawa Rubinah ke klinik terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Namun, ternyata yang bersangkutan diindikasikan mengidap kanker usus sehingga harus dirujuk ke rumah sakit besar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) King Fahad dan sesuai arahan dokter rumah sakit dia harus menjalani operasi pengangkatan kanker. Setelah 10 hari menjalani perawatan di rumah sakit pasca operasi, Rubinah dibawa kembali ke shelter KJRI.

"Sambil mengurus final exit bagi Rubinah, Tim Pelanyanan dan Pelindungan KJRI Jeddah melakukan pendekatan kepada pihak rumah sakit untuk mendapatkan keringanan biaya pengobatan," jelas Yusuf.

Sementara itu, Konsulat Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, menyikapi maraknya Warga Negara Indonesia (WNI), khususnya kaum perempuan, yang diberangkatan secara tidak prosedural ke Arab Saudi untuk bekerja, beliau mengajak seluruh instansi terkait dan para pemuka masyarakat di daerah untuk ikut menyadarkan warganya agar tidak berangkat ke Arab Saudi bekerja sebagai asisten rumah tangga.

“Berangkat dengan visa kunjungan (ziarah) untuk bekerja cukup beresiko dari sisi perlindungan, karena tidak memiliki ikatan kontrak yang legal antara PMI dan pengguna jasa. Sulit pembelaannya jika terjadi sengketa antara keduanya. Karena status keberadaan dia (PMI) di Arab Suadi sudah menyalahi aturan,” terang Konjen.

Lanjutnya, Pemerintah Indonesia telah resmi memberlakukan kebijakan moratorium pengiriman PMI informal ke beberapa negara Timur Tengah termasuk Arab Saudi, untuk bekerja sebagai asisten rumah sesuai dengan Kepmenaker Nomor 260 Tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan TKI Pada Pengguna Perseorangan di Negara-Negara Kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, KJRI Jeddah dalam sepekan menerima lebih dari 5 orang WNI perempuan yang kabur dari tempat kerjanya. Mereka umumnya dipekerjakan di sektor domestik dan didatangkan dari Tanah Air dengan cara Ilegal.

“Umumnya mereka direkrut oleh sponsor atau calo juga perusahaan, tapi kemudian disalurkan ke sektor rumah tangga untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga,” pungkas Konjen Hery.
(JWR/IYD, 13/07)
Universitas Terbuka Riyadh
-