Berita > Seputar TKI
Kisah PMI Overstayer Mencari Bantuan Hukum Karena Dituduh Curi Perhiasan di Taiwan
12 Jul 2019 23:48:08 WIB | Hani Tw | dibaca 2298
Ket: PMI ilegal mendatangi kantor pengacara untuk mencari bantuan hukum
Foto: Dok.TCESIA
Taipei, LiputanBMI - Seorang pekerja migran Indonesia Acing (nama samaran) yang melarikan diri dari rumah majikan belum genap sebulan tertangkap polisi dan harus ditahan di detensi Imigrasi Yilan.

Majikan Acing melaporkannya kepada polisi bahwa ia telah mencuri perhiasan emas senilai NTD 1.000.000 lebih, sehingga ia selama ditahan di detensi Imigrasi juga harus ke pengadilan untuk menjalani sidang.

Kepada LiputanBMI Acing mengatakan, akhir Juni 2019 lalu ia dikeluarkan oleh rumah tahanan Yilan. Ia dibebaskan bukan karena tidak bersalah, tetapi diberi kesempatan supaya bisa mencari pengacara yang dapat membantunya.

Menurut keterangan Acing, petugas Imigrasi Yilan hanya mengantarnya sampai di Kantor Imigrasi Mucha, Taipei City. Ketika Acing menanyakan tempat penampungan sementara, petugas Imigrasi menyuruh Acing mencari tempat tinggal di luar.

Sebagai seorang pekerja migran yang baru masuk Taiwan sekitar delapan bulan, saat itu Acing merasa takut dan bingung mau kemana mencari tempat tinggal.

Untung saja Acing masih menyimpan kartu nama salah seorang petugas Konghue Taoyuan yang pernah diberikan oleh relawan PMI di Taiwan melalui temannya. Tidak ada pilihan lain bagi Acing kecuali pergi mencari alamat yang tertera di situ.

Perjalanan dari Taipei menuju kantor Konghue di Taoyuan membutuhkan waktu yang tidak pendek bagi Acing yang belum pernah pergi sendirian selama di Taiwan. Sampai di Taoyuan waktu sudah malam, kantor Konghue sudah tutup, pintu juga terkunci.

Acing hanya berdiri bengong di depan pintu tanpa ada seorangpun yang ia temui. Sekitar pukul 11 malam ada seorang wanita warga Taiwan yang lewat kemudian menghampiri Acing, ia membantu menelpon petugas Konghue supaya menjemputnya. Wanita tersebut menemani Acing sampai petugas Konghue datang.

Untuk sementara Acing tinggal di penampungan Konghue. Acing yang dalam keadaan kecapekan, badannya terasa sakit serta batuk-batuk, petugas Konghue membawanya ke rumah sakit untuk berobat.

Menurut Acing, selama tinggal di detensi Imigrasi Yilan, berat badannya turun 15 kg. Di sana satu ruangan ada sekitar 500 orang tahanan, dan dalam setiap kamar kurang lebih 36 orang. Acing tidak ada selera makan, tidak bisa tidur nyenyak karena berdesakan, bahkan ada beberapa orang tahanan tertekan ngedumel sendiri.

Sementara di penampungan Konghue, menurut Acing jauh lebih bagus meskipun tidak besar. Yang tinggal disana adalah pekerja migran korban tindakan kekerasan, pelecehan, serta yang tersangkut kasus hukum. Ada petugas psikiater yang bisa menghibur atau membuat yang tinggal disana merasa aman dan tidak tertekan.

Pada kesempatan lain, kepada LiputanBMI Jumat(12/7/2019) petugas Konghue, Louise Hwang mengatakan, mereka telah menghubungi kantor Imigrasi untuk menanyakan tempat tinggal Acing. Tapi jawabannya mengejutkan, menurut Imigrasi , mereka tidak menyediakan tempat tinggal sementara bagi Acing.

“Acing sekarang kasusnya belum selesai, sedangkan ia tidak punya tempat tinggal sementara yang tetap. Yang dikawatirkan jika ada surat panggilan dari pengadilan tidak sampai ke tangan Acing. Dan akhirnya Acing harus menerima keputusan pengadilan yang memberatkannya, “jelas Louise Hwang dengan nada kesal.
Menurut Louise, awal Juli kemarin, Konghue membawa Acing ke kantor pengacara di Toyuan. Sebelumnya pengacara menolak untuk membantu kasus Acing karena selain setatusnya ilegal ia juga tidak membawa ARC. Akan tetapi melalui bantuan Konghue, akhirnya pengacara mau membantunya untuk menindaklanjuti.

Lebih jauh Louise mengingatkan, apabila pekerja migran mempunyai masalah di Taiwan sebaiknya segera melapor ke 1955, jangan memilih kabur. Jangan mengalami nasib seperti Acing, selain ia sudah tidak mempunyai askes untuk meringankan biaya berobat, majikannya menggugat atas tuduhan pencurian, tidak punya tempat tinggal bahkan untuk mengajukan pengacara juga sangat susah karena setatusnya ilegal.
(HNI/IYD, 12/07)
Universitas Terbuka Riyadh
-