Berita > Seputar TKI
Kecelakaan Saat Bertugas Jadi Panwaslu di Kuala Lumpur, Sumarno Tak Dapat Santunan Apa-Apa
25 Jun 2019 22:38:13 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 1540
Ket: Kondisi Sumarno saat ini
Foto: Sumarno/LBMIMY
Kuala Lumpur, LiputanBMI - Sumarno (29), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Pati, Jawa Tengah yang mengalami kecelakaan saat bertugas menjadi Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di Kuala Lumpur pada Pemilu 2019 lalu hingga kini tidak mendapat santunan apa-apa.

“Dari teman-teman Panwaslu Kuala Lumpur ada memberi santunan yang katanya hasil iuran sukarela. Dari teman-teman sesama PMI juga ada. Tapi pihak Panwaslu sebagai lembaga pemilu hingga sekarang tidak memberi santunan apa-apa,” kata Sumarno ketika ditemui LiputanBMI di Kuala Lumpur, Selasa (25/6).

Kecelakaan yang menyebabkan Sumarno mengalami patah tulang kaki, serta luka parah di area leher dan dagu tersebut terjadi di Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur, Rabu, 17 April 2019. Ketika itu, dalam perjalanan menuju pusat penghitungan suara yang berlokasi di Putra World Trade Center (PWTC), motor yang dikendarai Sumarno menabrak mobil yang sedang parkir di tepi jalan.

“Saya sudah pernah tanya ke Ketua Panwaslu Kuala Lumpur, katanya tidak ada anggaran,” ungkap Sumarno.

Bapak satu anak yang bekerja sebagai instalator listrik bangunan di kawasan Kuala Lumpur tersebut sempat menjalani operasi dan dirawat di Hospital Kuala Lumpur selama 16 hari.

“Untungnya, biaya operasi dan biaya rawat inap di hospital di-cover asuransi. Tapi sekarang untuk kontrol dan perawatan luka ya biaya sendiri,” katanya.

Sumarno ketika kecelakaan dan ketika berada di hospital
Ket. foto: Sumarno ketika kecelakaan dan ketika berada di hospital
Sumber foto: Sumarno/LBMIMY


Dalam sekali kontrol ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kakinya yang patah dan luka di dagunya, kata Sumarno, ia harus mengeluarkan biaya sekitar 600 ringgit (kurang lebih Rp 2 juta). Setiap dua hari sekali, ia juga harus mengeluarkan biaya untuk cuci luka di klinik terdekat.

“Entahlah. Saya hanya bisa pasrah. Saya sudah tidak bisa bekerja lagi. Kata dokter, masa penyembuhan paling cepat pun lima bulan. Istri saya juga tidak bisa kerja karena merawat saya. Padahal butuh biaya yang tidak sedikit,” kata Sumarno.

Saat ini, katanya, ia memilih bertahan di Kuala Lumpur karena tidak mau menyusahkan keluarga di kampung. Selain itu, ia juga sedang menunggu asuransi kecelakaan yang sekarang sedang diurus.

“Saya hanya berharap asuransi kecelakaan bisa cair. Kalau membaca berita di media sih, petugas pemilu yang meninggal atau kecelakaan katanya dapat santunan, tapi saya tidak dapat apa-apa,” pungkasnya.

(FK/FK, 25/06)

Universitas Terbuka Riyadh
-