Berita > Seputar TKI
Sebulan, Malaysia Keluarkan Rp 11,5 Miliar untuk Biaya Makan Pekerja Migran yang Ditahan
22 Jun 2019 20:31:21 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 12408
Ket: ilustrasi PATI yang ditangkap imigresen
Foto: Bernama
Kuala Lumpur, LiputanBMI - Departemen Imigrasi Malaysia (JIM) menyebut, pemerintah Malaysia membelanjakan 3,5 juta ringgit (sekitar Rp 11,5 miliar) setiap bulan untuk menanggung biaya makan pekerja migran tak berdokumen atau biasa diistilahkan Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI) yang ditahan di depot imigresen (rumah detensi imigrasi, Red) di seluruh wilayah Malaysia.

Ketua Pengarah JIM, Datuk Khairul Dzaimee Daud mengatakan, berdasarkan angka itu, pemerintah Malaysia menanggung biaya makan rata-rata 12 ringgit (sekitar Rp 39 ribu) sehari bagi setiap tahanan yang kebanyakan berada di depot antara satu atau dua bulan sebelum dideportasi ke negara asal.

“Biaya makan tahanan ditanggung pemerintah untuk memastikan hak asasi PATI terpelihara dan hal ini juga dilaksanakan di semua depot imigresen di negara lain. Pengurangan biaya makan tahanan dapat diatasi sekiranya proses dokumen perjalanan yang disediakan pihak kedutaan dapat dilaksanakan dengan cepat,” kata Datuk Khairul sebagaimana dilansir Berita Harian Online, Sabtu (22/6).

Lebih lanjut Datuk Khairul mengatakan, JIM telah menjalin kerja sama dengan pihak kedutaan negara asal PATI untuk mempercepat proses mengeluarkan dokumen perjalanan agar PATI yang ditahan bisa segera dideportasi. Langkah ini diyakini akan dapat mengurangi jumlah tahanan di depot imigresen.

Hingga 18 Juni 2019, JIM telah menahan 9,654 PATI di 14 depot imigresen di seluruh wilayah Malaysia. PATI yang ditahan terdiri dari 7.650 laki- laki, 1.664 wanita, dan selebihnya adalah anak-anak.

Saat ini, jumlah tahanan PATI di empat depot imigresen, yaitu Bukit Jalil - Kuala Lumpur, Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) - Sepang, Lenggeng - Negeri Sembilan dan Juru - Pulau Pinang telah melebihi kapasitas.

“Kita coba mempercepat proses untuk menghantar mereka pulang ke negara masing-masing serta memindahkan mereka ke depot yang berdekatan untuk menghindari kesesakan,” jelas Datuk Khairul.


(FK/FK, 22/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-