Berita > Seputar TKI
Pelaut Keluhkan Soal Pelayanan Buku Pelaut di KSOP Sekupang
21 Jun 2019 19:02:07 WIB | Syafii | dibaca 1554
Ket: Ilustrasi Buku Pelaut
Foto: Google
Nasional, LiputanBMI - Keluhan pelaut tentang dibatasinya pelayanan pembuatan dokumen identitas pelaut (Buku Pelaut) yang perharinya hanya 15 Buku Pelaut oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sekupang, Batam menjadi salah satu permasalahan yang disorot oleh Pergerakan Pelaut Indonesia cabang Kepulauan Riau (PPI Kepri).

Hal tersebut dianggap telah merugikan para pelaut yang akan bekerja, baik di kapal di dalam negeri maupun bagi pelaut yang akan bekerja di kapal di luar negeri.

"Dengan dibatasinya pelayanan pembuatan Buku Pelaut (BP) yang hanya 15 BP/hari, sementara pelaut yang ingin membuat BP begitu banyak, sehingga banyak pelaut yang tidak terlayani," ujar Ketua Pembina PPI Kepri, Capt. Iskandar Zulkarnain, M.Mar kepada Liputan BMI, Rabu (19/6/19).

Menurut Capt. Zul, beberapa pelaut ada yang bolak-balik sampai empat hari hanya untuk mendapatkan nomor antrian, bahkan pukul 08.30 pagi nomor antrian sudah habis dan pelaut yang tidak terlayani disuruh pulang serta disarankan datang lebih awal keesokan harinya.

Selain soal pembatasan pembuatan BP, Capt. Zul juga menyampaikan keluhan para pelaut terkait penggantian BP melalui sistem online yang dianggap juga merugikan para pelaut.

"Itu penggantian BP melalui sistem online juga banyak dikeluhkan. Masa pengalaman berlayarnya yang dimasukan hanya yang disijil saja, jadi para pelaut kehilangan pengalaman berlayarnya yang tercatat di BP lama selama mereka pernah beberapa kali berlayar," ungkap Capt. Zul.

Capt. Zul menambahkan, saat pelaut On Board (OB) pasti disijil (dimasukkan ke dalam daftar awak kapal), apabila ganti BP, yang disijil akan dipindahkan ke kolom Active Sea Service (Pengalaman Berlayar) di BP. Tetapi dengan sistem BP online sekarang, yang dicatat hanya yang disijil terakhir saja, sedangkan kolom pengalaman berlayar sebelumnya tidak di masukan atau dicatat.

Terhadap dua permasalahan di atas, Capt. Zul bersama para pengurus PPI Kepri lainnya mendatangi KSOP Sekupang guna memperoleh kejelasan dan menyampaikan apa yang menjadi keinginan para pelaut.

"Dalam pertemuan dengan pihak KSOP Sekupang pada Kamis (20/6/19), Printer dan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kendala utama yang dihadapi oleh pihak KSOP," terang Capt. Zul.

Lanjut Capt. Zul, dari pantauan PPI kepri, petugas yang melayani adalah Kadet dari sebuah sekolah pelayaran dan mesin printer sebanyak 3 buah hanya 1 yang dapat dipergunakan.

PPI Kepri berharap dan meminta kedepannya pelayanan di KSOP Sekupang dalam pembuatan BP, dapat ditingkatkan dari 15 BP/hari menjadi lebih banyak dan maksimal. Mengingat banyak pelaut yang ingin bekerja harus tertunda, bahkan tidak sedikit yang akhirnya batal bekerja karena terkendala oleh pelayanan BP yang kurang maksimal.

Terkait penggantian BP melalui sistem online, PPI Kepri meminta kepada pihak KSOP Sekupang agar dapat memasukan pengalaman berlayar para pelaut dapat dimasukkan dikolomnya, karena hal tersebut menjadi tolak ukur bagi perusahaan pelayaran dalam merekrut dan menerima pelaut untuk dapat dipekerjakan sesuai pengalamannya.

"Terkadang kan pelaut dipecat oleh pengusaha secara tidak prosedural dan BP-nya enggak disijil off. Sedangkan untuk pelaut meminta sijil off harus ada Perjanjian Kerja Laut (PKL). Nah, masih banyak juga pelaut yang tidak diberikan salinan PKL. Semoga KSOP bisa bijak terhadap hal itu dan tegas kepada pengusaha untuk memberikan salinan PKL kepada pelaut yang dipekerjakannya," pungkas Capt. Zul.
(IS/IS, 21/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-