Berita > Seputar TKI
Pengakuan Kadet di Kapal: Dipukul, Ditendang dan Diancam Akan Dibunuh
10 Jun 2019 16:49:16 WIB | Syafii | dibaca 6943
Ket: YAS, di depan kantor PPI pasca melakukan pengaduan
Foto: LBMIJKT
Nasional, LiputanBMI - Seorang pemuda kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan, YAS (23) adalah seorang peserta didik yang sedang melakukan praktik laut 'Kadet', di atas kapal MV. Sera** 5 milik PT. TF yang saat ini kapal tersebut sedang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Saya enggak ada masalah apa-apa. Tapi alasannya, katanya saya enggak menyapa C/O. Padahal saya menyapa. Soal ancaman dibunuh, itu dilakukan setelah kejadian pemukulan. Juru Mudi terus intimidasi saya dan mengambil pisau dapur lalu mengacungkan di depan saya sambil berkata, awas ya, saya 'Juru Mudi' gorok leher kamu 'YAS'," ucap YAS kepada Liputan BMI melalui selulernya, Senin (10/6/19).

Kepada Liputan BMI, YAS menyatakan bahwa dirinya mulai menjadi Kadet di kapal itu sejak tanggal 26 Oktober 2018. Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, YAS dipukul dan ditendang oleh Sdr. A selaku C/O (Chief Officer) pada tanggal 04 Juni 2019.

Selain dipukul dan ditendang, tambah YAS, Sdr. F selaku Juru Mudi juga ikut-ikutan mengancam akan membunuh YAS sambil mengacungkan pisau dapur pasca insiden pemukulan itu, tetapi YAS tidak berani melawan dan hanya diam.

"Saya trauma dan kemudian lapor ke Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) untuk mendapatkan pendampingan dan bantuan hukum atas kejadian yang saya alami," terang YAS.

Secara terpisah, Tim Liputan BMI mencoba menghubungi kantor PPI untuk mengklarifikasi kasus pemukulan tersebut.

"Ya, benar. Pada tanggal 07 Juni 2019 malam telah datang ke kantor kami, Sdr. YAS. Kedatangannya untuk keperluan meminta pendampingan dan bantuan hukum atas apa yang telah dialaminya di atas kapal yang telah menerima perlakuan kekerasan dan ancaman pembunuhan dari atasan kerjanya di kapal," kata Anggota Satuan Tugas 'SATGAS PPI', Muh. Rakhmat Shiyam melalui telepon.

Rakhmat menambahkan, bahwa hari ini, Senin (10/6/19) dirinya telah mendampingi YAS untuk datang ke perusahaan dan meminta pihak perusahaan segera memfasilitasi pemanggilan terhadap kedua pelaku, yakni Sdr. A (C/O) dan Sdr. F (Juru Mudi) agar permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan.

"Respon perusahaan positif. Perusahaan melalui HRD nya akan memanggil kedua pelaku untuk dimintai keterangan dan digelar musyawarah pada hari Rabu (12/6/19) mendatang," ungkap Rakhmat.

Rakhmat meminta kepada perusahaan, jika kedua pelaku terbukti bersalah dan melakukan kekerasan serta ancaman pembunuhan tanpa alasan yang berdasar, maka perusahaan diminta melakukan tindakan tegas sesuai aturan hukum dan peraturan perusahaan.

Selain itu, Rakhmat juga meminta kepada perusahaan agar bisa mengambilkan semua dokumen dan barang-barang milik YAS yang saat ini masih di atas kapal, karena tidak mungkin YAS kembali ke kapal. Selain masih trauma, hal itu juga demi alasan keamanan YAS.

Menanggapi kasus tersebut, Ketua Umum PPI, Andri Yani Sanusi mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang sering terjadi di atas kapal. Indonesia pada tanggal 6 Oktober 2016 melalui Undang Undang Nomor 15 Tahun 2016 telah meratifikasi Maritime Labour Convention, 2006 (Konvensi Ketenagakerjaan Maritim, 2006).

Secara Umum, kata Andri, terdapat 11 regulasi nasional yang sudah sesuai 'comply' dengan ketentuan MLC 2006, salah satunya adalah Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

"Setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas kesempatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama sebagaimana Pasal 86 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan," pungkas Andri.
(IS/IS, 10/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-