Berita > Seputar TKI
7 Tahun Dipenjara di Filipina, PMI Asal Blitar Dibebaskan
21 May 2019 02:42:13 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 6146
Ket: Dwi Wulandari, disambut keluarganya di Blitar
Foto: Inilahcom
Jakarta, LiputanBMI - Dwi Wulandari, buruh migran Indonesia yang sempat mendekam di penjara Manila karena kedapatan membawa narkoba tahun 2012 lalu, telah dibebaskan. Ia hari ini tiba di kampung halamannya, Blitar, Jawa Timur, demikian VOA melaporkan, Senin (20/5/2019).

Migrant Care menyambut baik upaya pembebasannya dan sekaligus mendorong warga Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri untuk waspada terhadap risiko diincar sindikat narkoba.

Dwi Wulandari tak dapat menahan tangis dan harunya ketika akhirnya dapat kembali melihat kampung halaman dan rumahnya. Ia peluk erat Pujiastuti, sang ibunda, dan kedua anaknya, Riska dan Fafa.

Kepala Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah yang mengawal kasus ini sejak awal, lewat akun Facebooknya memasang beberapa foto dan keterangan pembebasan Dwi sejak dijemput pejabat KBRI Manila dari penjara Mandaluyong setelah permohonan bandingnya dikabulkan dan ia dinyatakan bebas, hingga saat-saat mendebarkan menunggu izin pulang dari pihak imigrasi Filipina.

"Selamat datang Dwi Wulandari ke tanah air. Alhamdulillah lebaran ini bisa berkumpul dengan keluarga setelah tujuh lebaran kamu lalui di medan juang yang penuh air mata. Mrebes mili membayangkan kebahagiaan mereka," tulis Anis.

Kisah Dwi Wulandari ini mirip dengan Mary Jane. Keduanya ditangkap otoritas berwenang karena membawa narkoba dan diseret ke muka hukum. Bedanya Dwi kini sudah dapat menghirup udara bebas, sementara Mary Jane masih dihantui vonis mati.

Dwi Wulandari ditangkap di bandara Manila pada 29 September 2012 karena kedapatan membawa enam kilogram kokain di bagasinya. Dwi berkeras ia tidak tahu menahu tentang kokain itu. Ia mengaku direkrut tetangganya, Erma, untuk bekerja di Malaysia dan dibelikan tiket pesawat terbang ke Malaysia lewat Surabaya.

Namun baru dua hari di Malaysia, ia dibelikan tiket ke India untuk membantu majikannya berbisnis. Dwi tak juga curiga ketika ia diminta bepergian ke beberapa negara lain, hingga ke Peru. Dari Peru ia diminta terbang ke Manila. Dalam perjalanan ke bandara Peru, Dwi mengatakan dititipi barang oleh seseorang, yang harus diantarnya ke Manila.

Semua penjelasan ini dipaparkan Anis Hidayah dari Migrant Care yang mengikuti kasus hukumnya di Regional Trial Court Pasay City. Dwi sempat divonis penjara seumur hidup, tetapi tim pengacara yang membantunya tidak kenal lelah mengupayakan banding karena menilai putusan itu tidak adil dan posisi Dwi sebagai korban. Proses banding ini yang memakan waktu bertahun-tahun.

Anis Hidayah bersama ibunda Dwi dan kedua anaknya sempat menemuinya langsung di penjara Mandaluyong pada Maret 2018 lalu. Ketika itu pun Dwi tak berhenti memeluk dan menciumi wajah kedua anaknya, terlebih si bungsu Fafa yang ketika ditinggalkannya tahun 2012 baru berusia beberapa bulan. "Kamu sudah besar sekali Nak, sekolah yang pintar yaa," bisiknya sebagaimana diceritakan Anis di Facebooknya.

Tangis yang sama mengalir lagi ketika Dwi melihat Fafa Minggu siang (19/5/2019), tetapi kini tentu jauh lebih lega karena terjadi di pintu rumah mereka di Blitar, Jawa Timur, setelah menempuh perjalanan panjang dari Manila ke Jakarta, dilanjutkan penerbangan ke Malang dan perjalanan darat ke Wlingi, Blitar.

(Sumber:Inilahcom)
(JWD/JWD, 21/05)
Universitas Terbuka Riyadh
-