Berita > Opini
Jadi PMI Kaburan di Jeddah Bukan Jaminan Kerja Bebas dan Gaji Besar
27 Mar 2019 23:14:18 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1321
Ket: Kerumunan PMI di pelataran KJRI Jeddah saat amnesty 2013
Foto: Google
Jeddah, LiputanBMI - Kota Jeddah adalah sebuah kota metropolitan di Arab Saudi yang secara geografis terletak di sebelah pantai timur Laut Merah. Berdasarkan data Bank Dunia akhir 2018, jumlah penduduk di Jeddah sebanyak 2,8 juta jiwa.

Jeddah juga merupakan pusat kota perdagangan di Arab Saudi yang mempunyai jalur strategis pelabuhan laut maupun udara. Maka tak heran, kota Jeddah menjadi tumpuan pekerja migran Indonesia (PMI) yang melarikan diri dari majikan.

Bukti kota Jeddah sebagai basis PMI kaburan di Arab Saudi adalah saat diberlakukannya program Amnesty oleh pemerintah Arab Saudi pada tahun 2013 yang mencatat lebih dari 70 ribu Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang dikeluarkan KJRI Jeddah.

Memang, banyak PMI kaburan yang sukses hidup senang di Jeddah. Dengan berbagai jenis pilihan pekerjaan, mereka bisa mendapat gaji yang relatif besar. Akan tetapi, menjadi PMI kaburan di Jeddah bukan jaminan bisa dapat kerja bebas dan gaji besar karena faktanya banyak cerita miris yang dialami PMI kaburan.

Dalam sepekan ini ada beberapa kejadian miris yang dialami PMI kaburan di Jeddah. Di antaranya yang dialami PMI asal Lombok berinisial MN yang sekarang mendekam di penjara Dahban karena tuduhan pencurian emas.

MN datang ke Arab Saudi pada tahun 2018 melalui sebuah sarikah dan bekerja di kota Makkah. Karena tidak cocok dengan majikan, akhirnya dia kabur dan bekerja harian di Jeddah. Pada Selasa 26 Maret 2019, MN menjalani persidangan perdana di Niaba Al Ama Jeddah (Public Prosecution Department of Jeddah).

Nasib apes juga dialami Marfuah binti Sanusi yang juga ditangkap polisi saat akan berangkat kerja harian. Saat itu Marfuah sedang menaiki taksi bersama temannya yang menjadi incaran polisi karena memasukkan kerja pekerja ilegal yang diduga melakukan pencurian uang di rumah majikan. Marfuah yang tak berdosa itu akhirnya harus rela mendekam di kantor polisi Dahban.

Cerita kelam juga diceritakan MS, ibu dua anak yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jeddah sebagai kaburan. Dia mengaku sempat mengalami pelecehan seksual saat kerja harian dan hampir saja diperkosa majikan. Beruntung dia melakukan perlawanan dan berhasil menyelamatkan diri.

Terakhir, kisah kurang beruntung juga diceritakan akun Facebook Mamah Aziz pada Selasa 26 Maret 2019 yang disekap majikan di distrik Rahely, Jeddah. Dalam postinganya dia mengatakan sedang disekap di sebuah kamar dan tidak diizinkan keluar rumah. Bukan hanya sekadar caci maki, dia juga mengaku sering dipukul majikannya.
(IYD/IYD, 27/03)
Universitas Terbuka Riyadh
-