Berita > Seputar TKI
Mariya, PMI Asal Indramayu 9 Tahun Tertahan Tidak Bisa Pulang di Suriah
18 Mar 2019 00:26:37 WIB | Juwarih | dibaca 1147
Ket: PMI a.n Mariya binti Asirin Damburi (48), warga Blok Mangir, RT. 003, RW. 005, Desa Sliyeg, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Foto: Keluarga
Indramayu, LiputanBMI - Mariya binti Asirin Damburi (48), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Blok Mangir, RT 003, RW. 005, Desa Sliyeg, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dilaporkan 9 tahun tidak bisa pulang saat bekerja di Suriah.

Berdasarkan aduan keluarganya, Mariya tidak bisa pulang karena tertahan dan tak diberi gaji oleh majikannya di Damaskus, sejak 25 Oktober 2010.

"Selama kurang lebih 9 tahun bekerja di Suriah, ibu saya tidak bisa pulang dan tidak diberi gaji," kata Ike Nurjanah, anak kandung Mariya saat dikonfirmasi LiputanBMI, Minggu 17 Maret 2019.

Ike menceritakan, ibunya bekerja sebagai pekerja rumah tangan (PRT) di Suriah direkrut oleh Nurlaela, sponsor asal Cirebon, Jawa Barat.

"Sponsor setiap kali saya menanyakan nama PJTKI yang memberangkatkan ibu ke Suriah, dia selalu diam seperti ada sesuatu yang ditutup-tutupi," ujar ibu beranak satu.

Ike mengatakan, setibanya di Damaskus ibunya bekerja pada majikan laki-laki bernama Fared Al-Nokare dan istrinya bernama Umayah.

"Selama bekerja hampir 9 tahun di Suriah ibu saya gajinya yang dikiriman ke Indonesia totalnya kurang lebih sebesar Rp 30 juta," tutur Ike.

Kata Ike, bukan hanya ibunya saja yang tertahan tidak bisa pulang, teman kerja ibunya pun pekerja migran asal Filipina selama 20 tahun tidak pernah dipulangkan.

"Ibu saya bilang bahwa temannya yang orang Filipina sudah bekerja 20 tahun tidak dibolehkan untuk pulang, bahkan orang tuanya meninggal pun majikan tidak mengizinkan pulang," papar Ike.

Melihat perlakuan majikan ibunya kurang baik terhadap para PRT. Ike berharap pemerintah Indonesia baik melalui Kementerian Luar Negeri maupun perwakilannya di Damaskus, agar bisa membantu menyelamatkan dan memulangkan Mariya ke kampung halamannya di Indramayu.

"Karena perlakuan majikan yang kurang baik sehingga ibu saya sudah ketakutan duluan, sehingga tidak berani minta pulang. Oleh sebab itu saya berharap pemerintah Indonesia bisa membantu untuk menyelamatkan dan memulangkan ibu saya dengan membawa seluruh haknya selama bekerja di Suriah," harapnya.
(JWR/IYD, 18/03)
Universitas Terbuka Riyadh
-