Berita > Seputar TKI
Turini, PMI Asal Cirebon 21 Tahun Tertahan di Arab Saudi
15 Mar 2019 20:35:49 WIB | Juwarih | dibaca 1417
Ket: Kiri, Turini Fatma binti Madsari, PMI asal Cirebon Yang Tertahan selama 21 Tahun di Arab Saudi. Kanan, Diah Ardika Sari, anak kandung PMI sedang memegang photo ibunya.
Foto: Keluarga PMI
Indramayu, LiputanBMI - Turini Fatma binti Madsari (46), Pekerja Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi asal Desa Dawuan, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dilaporkan selama 21 tahun tidak bisa pulang.

Menurut keterangan keluarganya, Turini tidak bisa pulang karena ditahan dan tidak digaji oleh majikannya selama bekerja di Dawadmi, Arab Saudi sejak 16 Juni 1998.


"Selama kurang lebih 21 tahun bekerja di Arab Saudi, ibu saya tidak bisa pulang dan tidak diberi kebebasan untuk berkomunikasi dengan keluarga," kata Diah Ardika Sari, anak kandung Turini saat dikonfirmasi LiputanBMI, Jumat 15 Maret 2019.
.

Diah menceritakan, ibunya direkrut oleh Hasim, sponsor asal Desa Wanakaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada April 1998. Setelah diproses kurang lebih dua bulan, pada 16 Juni 1998 ibunya diberangkatkan ke Arab Saudi melalui PT Bayangkara Indah yang beralamat di Jakarta.

"Setibanya di Arab Saudi ibu saya bekerja pada majikan bernama Amir Fahan Medwakh Wudakh dan Pehan Medwakh yang beralamat di Wudakh Nipih, Dawadwi 11911, Arab Saudi," ujar Diah.

Diah mengatakan, selama hampir 21 tahun ibunya bekerja di Dawadwi baru tiga kali kirim uang dan terakhir kirim uang pada tahun 2000. Total uang yang sudah dikirim ke keluarga sebesar Rp.10 juta.

"Selain tidak digaji, ibu juga tidak diberi kebebasan untuk berkomunikasi. Terakhir telepon pada 2012, setelah itu putus komunikasi dan tidak diketahui keberadaannya lagi," keluh Diah.

Diah berharap pemerintah Indonesia baik melalui Kementerian Luar Negeri maupun perwakilannya di Riyadh, Arab Saudi bisa membantu untuk memberikan perlindungan terhadap ibu kandungnya yang sudah hampir 21 tahun bekerja tidak bisa pulang dan tidak terima gaji.

"Saya dan keluarga berharap pemerintah Indonesia bisa membantu untuk memulangkan ibu saya dengan membawa seluruh haknya selama bekerja di Arab Saudi," harapnya.

Pada 26 Juni 2018, Diah Ardika Sari telah menyampaikan pengaduan terkait permasalahan ibunya ke BNP2TKI dan dibuktikan dengan nomor aduan : ADU/201806/001930. Namun, hingga berita ini ditulis, ibunya masih belum dipulangkan.

Secara tiba-tiba, pada Jumat, 8 Maret 2019, Diah Ardika Sari mendapatkan pesan dari sesama pekerja migran orang Filipina melalui akun medsos yang isinya photo dan tulisan tangan ibunya sebanyak empat lembar.

Dalam isi tulisannya, Turini mengaku diperlakukan tidak manusiawi, (disekap, tidak diberi makan, tidak digaji, dan tidak boleh berkomunikasi) oleh majikannya selama dirinya bekerja.
(JWR/FK, 15/03)
Universitas Terbuka Riyadh
-