Berita > Seputar TKI
Inilah Penyebab Angka Kaburan di Taiwan Tetap Meningkat
28 Feb 2019 22:27:38 WIB | Hani Tw | dibaca 1715
Ket: Tabel jumlah overstayer di Taiwan
Foto: apple daily
Taipei, LiputanBMI - Jumlah pekerja migran di Taiwan sampai akhir tahun 2018 sudah mencapai 700.000 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 55.573 adalah berstatus overstayer, dengan perincian 31.642 orang dari Vietnam, 20.418 Indonesia, 1.932 Thailand dan 1.581 dari Filipina .

Sebagaimana dilansir Apple Daily (28/2), sesuai data yang didapat dari imigrasi, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir jumlah pekerja migran yang overstayer meningkat dari 20.000 orang menjadi 55.000 orang lebih.

Sementara menurut analisa Wakil Kepala Bagian Urusan Penegakan Hukum dan Internasional Departemen Imigrasi Xu Wei(徐昀), meningkatnya jumlah angka overstayer disebabkan beberapa hal seperti gaji terlalu sedikit, pekerjaan terlalu banyak, tidak bisa beradaptasi dengan tempat kerja atau tidak cocok dengan majikan, serta pengaruh pergaulan dan lingkungan ditambah biaya agen terlalu tinggi.

Setiap tahunnya tim khusus departemen imigrasi hanya bisa menangkap sekitar 20.000 orang overstayer, akan tetapi setiap tahunnya jumlah overstayer juga terus bertambah sehingga total angkanya tidak banyak perubahan.

Beberapa alasan pekerja migran lebih memilih overstayer 30% diantaranya adalah karena tidak puas dengan gaji yang diterima, dan 27% tidak cocok dengan majikan, sementara yang lain adalah karena pekerjaan terlalu banyak juga akibat pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar.

Selain itu, menurut Xi Wei pekerja migran yang overstayer kebanyakan mereka bekerja sebagai perawat pasien di rumah tangga, kontruksi bangunan, peternakan juga di perkebunan. Gaji yang diterima antara NTD 900 hingga NTD 1.500 perhari lebih tinggi dari yang diterima ketika masih resmi.

Sementara pekerja overstayer yang gajinya rendah biasanya adalah yang masuk ke Taiwan dengan menggunakan visa kunjung atau visa lain karena mereka tidak faham dengan kondisi setempat bahkan bisa dijerumuskan ke tempat pelacuran.
(HNI/IYD, 28/02)
Universitas Terbuka Riyadh
-