Berita > Seputar TKI
Jenazah ke-17 PMI asal NTT Tiba di Kampung Halaman
11 Feb 2019 21:58:16 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 813
Ket: jenazah Dominggus Bili
Foto: Jaringan Peduli Anti Perdagangan Orang di NTT
Nasional, LiputanBMI - Pekerja Migran Indonesia asal Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Dominggus Bili (39), yang dilaporkan meninggal dunia di Malaysia pada 29 Januari 2019 lalu telah tiba di kampung halamannya, Senin (11/2).

Dominggus merupakan PMI asal NTT ke-17 yang meninggal dunia di luar negeri sejak awal Januari 2019 sampai saat ini.

Menurut keterangan salah satu relawan Jaringan Peduli Anti Perdagangan Orang di NTT, Ardy Milik, semasa hidupnya Dominggus bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit di Serawak, Malaysia.

“Jenazah tiba di Bandara El Tari Kupang, Sabtu (9/2) sekitar pukul 22.00 WITA dan disemayamkan di ruang jenazah RSU W Z Yohanes Kupang. Senin pagi jenazah diantar ke kampung halamannya, Kabupaten Sumba Barat Daya,” kata Ardy Milik kepada LiputanBMI melalui sambungan telepon, Senin (11/2).

Proses pemulangan jenazah Dominggus, kata Ardy, diurus oleh KJRI Serawak bekerja sama dengan BNP2TKI dan BP3TKI Kupang serta relawan Jaringan Peduli Anti Perdagangan Orang di NTT.

Ardy memperkirakan NTT masih akan terus menerima kiriman jenazah PMI dari luar negeri sebagai konsekuensi atas adanya migrasi warga NTT yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Oleh karena itu, Ardy berharap kepada pemerintah untuk menindak tegas pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mengingat banyak PMI asal NTT yang menjadi korban TPPO karena sebagian besar proses migrasi yang ditempuh unprosedural.

Tidak hanya kepada pemerintah, Ardy juga berharap kepada seluruh elemen masyarakat NTT agar menyeriusi masalah TPPO sebagai suatu wabah yang harus ditanggulangi bersama.

Lembaga pendidikan dan lembaga agama yang tumbuh subur di NTT, menurut Ardy, harus ikut bertanggung jawab untuk mengatasi hal ini. Ia juga berharap lembaga sosial dan organisasi pergerakan di NTT memurnikan perjuangannya agar tidak sekadar berorientasi politik, proyek, atau tujuan ekonomi lainnya.

“Pemerintah sebagai penjamin kedaulatan rakyat harus bisa memastikan setiap warga NTT mampu hidup dan berdaya di kampungnya sendiri serta merasa bangga bahwa dari tanah, hutan dan airnya mereka bisa makan dan berkecukupan sehingga tidak perlu lagi bekerja ke luar negeri,” pungkasnya.
(FK/FK, 11/02)
Universitas Terbuka Riyadh
-