Berita > Seputar TKI
Baru 6 Bulan Kerja, PMI Asal Serang Dipulangkan Dengan Kondisi Kurus Penuh Lebam
06 Feb 2019 23:11:25 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 2538
Ket: Eni Suci Suharyati, TKI Asal Serang Dipulangkan penuh lebam karena siksaan majikan
Foto: Merdekacom
Serang, LiputanBMI - Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Asal Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten disiksa majikan hingga luka lebam dan mengalami kerusakan pada daun kuping. Kejadian ini dialami Eni Suci Suharyati (32) di Abu Dhabi.

Eni mengatakan, perlakuan kasar dari majikan mulai diterimanya sejak bulan pertama kerja. Pukulan dan jambakan rambut sampai dibenturkan ke tembok merupakan siksaan sehari-hari yang diterima olehnya.

Eni tidak bisa memberi kabar kondisi dirinya kepada keluarganya karena handphone miliknya ikut disita majikan.

"Keseringan ditampar, kuping melupas, agak ngebuka sedikit ngewel, saya bilang madam ngebuka (daun kuping) minta dibawa ke rumah sakit, nggak boleh karena takut majikannya, kena aib. Sudah nyengkleh, saya disebor (disiram) sama air panas, melepuh jadinya," kata Eni saat berbincang bersama wartawan di kediamannya, Rabu (6/2).

Tak jarang, Eni meminta dipulangkan ke Indonesia, bukan izin dan tiket pulang ia terima, malah siraman air panas yang ia dapat. Akibat disiksa majikan, kondisi tubuh Eni amat memprihatinkan, penuh luka lebam di seluruh tubuh, daun kuping mengalami kerusakan dan tubuh kering kerempeng.

Dalam sehari, ia hanya menerima makanan dua potong roti dan sepotong daging bekas majikan layaknya memberi makan hewan.

"Dulu pas berangkat 60 kilogram dengan perawakan gemuk, sekarang 30 kilo tadi kata dokter. Sudah diperiksa di rumah sakit umum," tutur Eni sembari menahan rasa sakit.

Setelah enam bulan bekerja dengan penuh siksaan majikan, Eni baru diizinkan untuk pulang ke Indonesia setelah dirinya memohon-mohon kepada majikan. Lebih miris lagi selama enam bulan kerja, ia hanya menerima tiga bulan gaji.

Eni tiba di Indonesia pada Selasa (5/2) pukul 20.00 WIB. Dibantu kepolisian Bandara, ia dapat memberi kabar keluarga di rumah untuk menjemput.

"Sama majikan dianter, dikasih uang, tiket, tapi uang saya dari gaji itu. Datang jam 8. Dikasih uang terakhir 1.000 dirham, buat tiket pun sempat kekurangan," katanya.

Source: Merdeka
(JWD/JWD, 06/02)
Universitas Terbuka Riyadh
-