Berita > Seputar TKI
Pengakuan ABK Kapal Ikan : Saya 8 Bulan Tidak Mandi, Makan Lauknya Kol Mentah dan Minum Air AC Serta Air Rasa Karat
22 Jan 2019 17:48:25 WIB | Syafii | dibaca 3490
Ket: Postingan Rahmatullah di Facebook
Foto: LBMIJKT
Nasional, LiputanBMI - "Saya 8 bulan gak bisa mandi. Makan dengan lauk hanya Kol mentah dan minum air AC serta air rasa karat"

Ungkapan tersebut terlontar dari mulut Rahmatullah, pemuda asal Banten dalam pengakuannya kepada LiputanBMI saat wawancara, Selasa (22/1/2019).

Rahmatullah adalah seorang anak desa yang sudah bekerja di salah satu Indomart di daerah Tigaraksa, Tangerang tak jauh dari rumahnya.

Tertantang untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan harapan bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik agar orang tua bisa bangga dan tentunya bahagia, Rahmatullah berniat mengubah nasib dengan cara menjadi pekerja migran sebagai Anak Buah Kapal atau ABK.

Berbekal informasi dari temannya, Wawan yang juga pernah bekerja sebagai ABK di luar negeri, Rahmatullah diajak menemui pimpinan perusahaan yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal Wawan di daerah Cisoka, Tangerang pada Agustus 2017 silam.

"Oleh pimpinan perusahaan yang ditemui, saya dimintai sejumlah uang sebesar Rp 1,5 juta untuk kepengurusan persyaratan kerja di luar negeri dan beberapa dokumen asli berupa KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan SKCK," ujar Rahmatullah.

Menurut Rahmatullah, dirinya diiming-imingi oleh pimpinan perusahaan yang memiliki kantor di kawasan Harapan Indah, Bekasi tersebut, akan menerima gaji perbulan sebesar USD 400 dan bonus tangkapan ikan yang besar di kapal Han Rong 353 di perairan Somalia.

Dengan tekad yang kuat, Rahmatullah mengumpulkan sejumlah uang yang diminta perusahaan dan menyerahkannya, meskipun dengan cara mencicil atau bertahap. Setelah itu, ia sempat diajak oleh staf perusahaan untuk ikut ke kantor imigrasi Tanjung Priok untuk pembuatan dokumen paspor.

"Saya cuma diajak oleh staf perusahaan untuk urus paspor. Dokumen lainnya enggak. Apa itu buku pelaut, apa itu sertifikat BST (Basic Safety Training), dan apa itu surat kesehatan, saya enggak tau," polos Rahmattulah ketika ditanya soal dokumen persyaratan kerja sebagai ABK di luar negeri.

Dengan modal paspor, buku pelaut, BST serta surat kesehatan yang dibantu diuruskan oleh perusahaan, Rahmatullah diantar oleh staf perusahaan ke Bandara Sukarno-Hatta bersama 21 ABK lainnya pada akhir Desember 2017.

"Saya bersama teman-teman dari Jakarta naik pesawat ke Singapura. Di Singapura pas tahun baru 2018. Kapal sudah ada disana. Kami dipencar di beberapa kapal, ada yang di kapal Han Rong 355. Kalau saya di kapal Han Rong 353, dan kemudian kapal berlayar ke perairan Somalia dengan waktu lebih kurang setengah bulan," kenangnya.

Ketika di atas kapal, Rahmatullah mengaku sering diperlakukan kasar oleh atasan di kapal.

"Kapten suka main tangan (memukul), apabila hasil tangkapan ikan sedikit," ucapnya dengan raut sedih.

Selain perlakuan kasar dari kapten kapal, kondisi makan dan minum serta fasilitas mandi di kapal pun sangat tidak layak. Hal itu terjadi sejak bulan Februari 2018.

"Saya 8 bulan enggak mandi. Makan cuma dengan lauk Kol mentah dan minumnya air AC serta air rasa karat. Tapi ABK lainnya (warga negara asing), mereka dapat jatah air mineral (seperti Aqua botol)," kata Rahmatullah.

Hari demi hari, bulan berganti bulan Rahmatullah tetap bertahan dengan kerasnya kehidupan di atas kapal demi harapan pulang (selesai kontrak) membawa uang dan dapat membahagiakan keluarga di kampung halaman.

"Keras A... di kapal teman saya kerja (Han Rong 355), sudah ada 2 ABK yang meregang nyawa. 1 ABK asal Filiphina karena keracunan makanan pada Juni 2018 dan 1 ABK asal China pada Agustus 2018 yang saya sendiri enggak tau penyebabnya," terang Rahmatullah dengan logat sunda-nya saat ditanya seperti apa kerasnya kerja di kapal ikan asing.

Harapan Pupus...

Dengan kondisi sedemikian miris dan beratnya kerja di kapal, harapan Rahmatullah menjadi pupus ketika ternyata pada saat kapal sandar dan akses komunikasi tersambung dengan keluarganya di Indonesia ternyata hak gajinya tidak dibayar sesuai dengan perjanjian yang disepakati sebelum ia berangkat ke luar negeri.

“Sekitar tanggal 30 Mei 2018 kapal jangkaran. Sejak itulah kapal tidak beroperasi (berlayar), tetapi saya tetap kerja di kapal mengerjakan pekerjaan sesuai perintah atasan. Saya enggak punya duit, saya tukarkan HP saya dengan Kartu Telepon (Simcard) dan Kuota Internet ke warga Somalia. Setelah itu, saya pinjam HP teman sekapal saya, Soleh namanya, untuk menghubungi Teteh (Bibi) saya di kampung untuk menanyakan kabar keluarga dan soal gaji saya, karena sebelum berangkat saya kasih nomer rekening Teteh saya ke perusahaan untuk kiriman soal gaji saya,” ungkap Rahmatullah.

Menurut Rahmatullah, pada bulan Agustus 2018 Tetehnya (Sdri. Rohati) mengatakan bahwa gajinya baru masuk pada minggu kedua bulan Juli 2018, itupun hanya sebesar Rp 8.775.000,-

“Saya bingung... perjanjiannya kan gaji saya akan dibayar per3 atau 4 bulan sekali. Kalau bulan Juli baru dikirim, harusnya yang masuk ke rekening Teteh saya sebesar USD 400 x 7 bulan = USD 2.800 – USD 400 (potongan kantor) = USD 2.400. Kok ini yang masuk hanya Rp 8.775.000 ?,” kata Rahmatullah.

Mendapat jawaban seperti itu dari Tetehnya, Rahmatullah mencoba menghubungi perusahaan di Indonesia dan menanyakan perihal gajinya tersebut yang tidak sesuai dan perusahaan memberikan jawaban bahwa hal itu terjadi karena ada ABK yang di kapal Han Rong 355 yang kabur waktu kapal ke Singapura, sehingga gaji para ABK ditahan. Tetapi ketika Rahmatullah meminta bukti soal penahanan gaji para ABK, perusahaan tidak mengirimkan bukti-buktinya.

Merasa tidak puas dengan jawaban yang disampaikan oleh perusahaan di Indonesia, Rahmatullah mencoba mencari-cari nomor KBRI di internet.

“Saya cari di internet, dapat nomor telepon KBRI Addis Ababa (Ethiopia). Saya telepon dan disambungkan ke KBRI Nairobi. Selain itu, saya juga membuat steatmen di facebook dan direspon oleh organisasi pelaut, yaitu Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI),” ujar Rahmatullah.

Rahmatullah kemudian meminta kepada Tetehnya agar datang ke kantor pusat PPI di kawasan Jakarta Utara untuk melakukan pengaduan resmi di PPI.

“Saya minta Teteh saya datang ke kantor PPI. Setelah itu pengurus PPI dampingi Teteh saya ke Kementerian Luar Negeri untuk mengadu dan akhirnya saya dan teman-teman bisa dibantu pemulangannya pada Oktober 2018,” kata Rahmatullah.

Saat ini, Rahmatullah menyatakan sedang berjuang dengan dibantu oleh Tim Advokasi PPI untuk menuntut hak-haknya selama bekerja yang belum dibayarkan oleh pihak perusahaan. Upaya yang sudah ditempuh oleh Rahmatullah adalah melaporkan perusahaan ke Kementerian Ketenagakerjaan, Komisi IX DPR, Satgas 115 Kementerian Kelautan & Perikanan, dan melaporkan perusahaan ke Bareskrim Polri terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang.

Rahmatullah berharap pemerintah dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang ia hadapi dan ke depan, perlindungan terhadap ABK Indonesia yang bekerja di luar negeri dapat diperkuat baik dari Pra, Masa, hingga Purna Penempatan.

(IS/IS, 22/01)
Universitas Terbuka Riyadh
-