Berita > Seputar TKI
Baru Tiba di Saudi, PMI Asal Sampang Meninggal Dunia Karena Sakit
15 Jan 2019 18:31:40 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 822
Ket: Jenazah (ilustrasi)
Foto: Radar Madura
Surabaya, LiputanBMI - Niat Misnadeh, 35, ingin memperbaiki nasib dengan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) justru berubah duka. Perempuan asal Desa Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang ini meninggal dunia di Arab Saudi karena sakit, Sabtu (12/1).

Sebagaimana dilansir Radar Madura, Senin (14/1) diketahui, Misnadeh berangkat ke Arab Saudi menggunakan visa umrah dari salah satu jasa pemberangkatan umrah di Jakarta. Ahmadi (40), suami Misnadeh menceritakan, istrinya berangkat ke Arab Saudi pada Minggu (6/1) bersama H Faridah, warga Kampung Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, yang merupakan pihak perwakilan dari sebuah PT jasa travel dan umrah.

Sejak berangkat kondisi istrinya dalam keadaan sehat. Meski punya riwayat kadar gula tinggi, namun sehari sebelum berangkat kadar gula istrinya normal. Hal itu dibuktikan dengan hasil tes kesehatan dari rumah sakit.

Namun, setelah naik pewasat dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Singapura, kondisi kesehatan Misnadeh terganggu. Misnadeh mengeluh sakit di bagian perut dan pinggang. Kabar tersebut diketahuinya setelah istrinya menelepon.

”Setelah turun dari pesawat di bandara Singapura, dia bilang kalau sakit perut dan pinggang. Tapi, tidak apa-apa katanya,” ungkap Ahmadi kemarin (14/1).

Sebelum penerbangan dari Singapura ke Arab Saudi, Ahmadi meminta istrinya agar berobat dengan bantuan pendampingan kepada pihak PT. Namun, dia tidak tahu apakah istrinya berobat atau tidak.

Setelah sampai di Arab Saudi, tepat Sabtu (12/1) dia mendapat kabar dari Faridah kalau kondisi istrinya sudah drop dan tidak sadarkan diri sehingga harus dirawat di rumah sakit di Arab Saudi.

”Sejam kemudian, saya ditelepon kalau istri saya sudah meninggal sekitar pukul 14.00 waktu setempat,” sambungnya.

Dia mengungkap, alasan Misnadeh menjadi TKW ke Arab untuk memperbaiki nasib keluarga. Selama ini Ahmadi dan Misnadeh merupakan keluarga nelayan. Mereka dikarunai dua orang anak. Yakni, Royhana dan Wiwin. Royhana sudah tiga tahun menjadi TKW di Arab Saudi.

Sementara istrinya baru kali pertama ini berangkat ke Arab Saudi. Dari pengakuan pihak PT, istrinya akan bekerja di Riyadh sebagai cleaning service di hotel.

”Jenazah istrinya agar bisa dipulangkan di kampung halaman. Namun tampak sulit karena pihak PT tampak tidak mau bertanggung jawab,” ujarnya.

”PT beralasan proses pemulangan rumit dan membutuhkan dana besar. Mereka meminta biayanya ditanggung berdua. Kami ingin jenazah dikubur di Mandangin,” harapnya.

Sementara itu, Kasi Transmigrasi Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskumnaker) Sampang Agus Sumarso mengaku, setelah ada moratorium, pihaknya mengaku tidak ada pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dengan demikian, kepergian warga Mandangin ke Arab Saudi tersebut bukan melalui jalur resmi alias ilegal.

”Kalau ada yang mengatasnamakan dari PT yang mengirim tenaga kerja, itu pasti ada tanda tangan persetujuan atau rekomendasi dari pihak dinas. Di Sampang tidak ada PT yang menawarkan jasa tenaga kerja ke Arab Saudi,” terangnya.

Kemungkinan, lanjut dia, PT itu yang menawarkan jasa travel dan umrah. Orang yang menawarkan jasa itu bukan dari PT, melainkan hanya calo. ”Yang jelas keberangkatannya tanpa sepengetahuan pemkab,” tegasnya.

Sumarso menegaskan, meskipun pihak keluarga menyatakan keberangkatannya melalui jalur resmi karena melalui PT, pihaknya menyatakan untuk saat ini pemberangkatan tenaga kerja ke Arab Saudi belum ada. Pemerintah setempat sampai saat ini belum membuka moratorium penerimaan TKI dan TKW. Artinya, Misnadeh berangkat melalui jasa umrah bukan PT Tenaga Kerja.
(JWD/JWD, 15/01)
Universitas Terbuka Riyadh
-