Berita > Seputar TKI
Majikan Singapura yang Aniaya PMI Divonis Penjara dan Harus Bayar Kompensasi
25 Dec 2018 11:40:53 WIB | Yully Agyl | dibaca 2147
Ket: Majikan Singapura pelaku penganiayaan terhadap PMI, Siti Khodijah
Foto: Straits Times
Singapura, LiputanBMI - Seorang majikan di Singapura bernama Anita Damu (51), dalam persidangan pada hari Senin (24/12/2018), dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun tujuh bulan atas tuduhan penganiayaan terhadap pekerja rumah tangga asal Indonesia, Siti Khodijah (29).

Sebenarnya, dalam persidangan 22 September lalu pelaku sudah mengaku bersalah atas lima tuduhan, akan tetapi pengacaranya berargumen bahwa dia akan berikan ganti rugi agar terbebas dari hukuman penjara dan pelaku juga merasa pusing hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Akhirnya, setelah hampir dua bulan ditangguhkan, keputusan hukuman penjara dijatuhkan oleh Hakim Distrik, Terence Tay. Selain itu pelaku juga diperintahkan untuk membayar kompensasi sebesar SGD 8.000 (setara Rp 84 juta) kepada korban.

Sebagaimana dilansir Straits Times, Senin (24/12), dalam berkas perkara dijelaskan, Siti Khodijah dipekerjakan oleh keluarga Anita pada Oktober 2013, dipaksa bekerja dari jam 4 pagi sampai 11 malam setiap hari tanpa ada hari libur. Anita yang juga dikenal sebagai Shazana Abdullah, juga hanya memberikan sarapan dan makan malam saja dengan porsi sedikit.

Sejak Januari 2014, Siti hanya diberi makan siang dan malam dua atau tiga kali seminggu. Kekerasan fisik juga dialami. Setiap apa yang dikerjakan Siti dianggap melakukan kesalahan, pelaku akan menampar wajah dan tubuhnya. Pelaku juga menggunakan tang untuk menjepit bagian tubuh Siti dan juga memakai bambu untuk memukul kepalanya.

Pada satu hari, antara bulan Mei - Juni 2014, ketika pelaku mengetahui bahwa korban telah makan satu buah lengkeng tanpa izin, pelaku menyiramkan air panas pada tubuh Siti. Di bulan Agustus tahun yang sama, pelaku menggunakan setrika panas untuk melepuh kedua tangan Siti karena dianggap bekerja terlalu lambat.

Kejahatan Anita terungkap pada 23 April 2015, setelah seorang pejabat Departemen Tenaga Kerja mengunjungi rumahnya dan mengetahui tentang penganiayaan terhadap Siti.

Pengacara Anita dalam mitigasinya mengatakan pelaku menderita penyakit mental yang berkontribusi pada tindakannya. Penyakit psikotik menyebabkan dia seperti mendengar suara-suara dan membuatnya melakukan tindakan pelecehan itu.

Dalam menjatuhkan hukuman, Hakim Distrik Tay mengakui adanya gangguan mental pelaku, tetapi dampak penyakit mental tergantung dari kasus ke kasus. Dikatakan bahwa Anita sadar apa yang dia lakukan dan tahu bahwa itu salah. Ini terlihat jelas ketika dia memberi tahu pembantunya bahwa dia akan masuk penjara jika pihak berwenang mengetahui apa yang dia lakukan, dan memerintahkan pembantunya untuk berbohong kepada dokter tentang luka-luka itu.

Menurut dokumen pengadilan, tindakan penganiayaan ini meninggalkan luka memar dan bekas luka permanen di seluruh tubuh dan tangan pelayan.

Saat ini, pelaku bebas dengan jaminan SGD 20.000 karena dia mengajukan banding terhadap hukuman tersebut.
(YLA/YLA, 25/12)
Universitas Terbuka Riyadh
-