Berita > Seputar TKI
Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT Serukan Boikot Produk Malaysia
21 Dec 2018 21:22:18 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 681
Ket: Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT ketika menggelar aksi
Foto: Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT/ Abe Maia
Nasional, LiputanBMI - Dari tahun ke tahun, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia di luar negeri terus meningkat. Bahkan, tahun ini saja, NTT mendapat kiriman 100 jenazah PMI yang sebagian besar meninggal dunia di Malaysia.

Prihatin dengan banyaknya PMI asal NTT yang meninggal di negeri jiran, Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT menyerukan untuk memboikot produk Malaysia.

"Salah satu pernyataan sikap kami adalah boikot produk Malaysia di NTT, terutama produk perusahaan yang mempekerjakan dan memperlakukan PMI secara tidak layak dan tidak manusiawi," kata Koordinator Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT, Ardy Milik.

Ardy menjelaskan, pernyataan sikap Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT tersebut telah disampaikan pada ‘Malam Refleksi Kemanusiaan untuk NTT’ yang digelar di depan Kantor Gubenur NTT, Jln. El Tari I, Kupang, Rabu (19/12/2018) malam.

Lebih lanjut Ardy mengatakan, acara Malam Refleksi Kemanusiaan untuk NTT ini dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 NTT yang jatuh pada tanggal 20 Desember.

Selain penyampaikan pernyataan sikap, juga digelar doa bersama lintas iman, pembacaan puisi, menyanyikan lagu dan aksi bakar lilin.

“Kami berharap kegiatan ini mampu membangkitkan kesadaran pihak-pihak terkait, baik masyarakat, lembaga agama, dan pemerintah atas berbagai persoalan krusial, sehingga mampu menciptakan perubahan dan kesejahteraan di NTT,” jelas Ardy.

Terkait banyaknya PMI asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia, kata Ardy, Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT menilai bahwa banyak di antara mereka merupakan korban perdagangan orang (human trafficking).

Oleh karena itu, selain menyerukan untuk memboikot produk Malaysia, Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT juga menyatakan sikap dan mengajukan beberapa tuntutan, yaitu:

1. Menuntut Gubernur dan Wakil Gubernur beserta jajarannya untuk meregulasi Satgas Anti Human Trafficking NTT agar ke depannya dapat bekerja secara optimal dalam memberantas mafia trafficking di NTT;

2. Menuntut tegas Pemerintah Provinsi NTT untuk menata ulang kebijakan yang berkelanjutan dalam menangani migrasi tenaga kerja sehingga memperkecil peluang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO);

3. Menuntut Bupati se-NTT untuk menata ulang sistem pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing;

4. Mengutuk keras pelanggaran HAM di NTT dan menuntut agar Polda NTT serius mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM;

5. Menuntut Perguruan Tinggi se-NTT agar membuka mata dan terlibat kerja nyata untuk menyikapi persoalan krusial di NTT;

6. Menuntut institusi agama di NTT agar tegas menyerukan sabda profetik terhadap situasi kemanusiaan NTT;

7. Tuntaskan secara bertahap tingginya angka stanting (kematian ibu dan anak) di NTT;

8. Hentikan Pertambangan di NTT! Cabut 309 Ijin Usaha Pertambangan;

9. Usut tuntas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak;

Pernyataan sikap ini adalah rumusan bersama Forum Solidaritas Kemanusiaan NTT, yang terdiri dari berbagai CSO, Organisasi lokal dan nasional, Komunitas Minat dan Bakat di Kota Kupang, dan pribadi-pribadi.
(FK/FK, 21/12)
Universitas Terbuka Riyadh
-