Berita > Seputar TKI
Diaspora Indonesia Gelar Diskusi Pengembangan Minat Kewirausahaan untuk PMI di Singapura
25 Nov 2018 14:06:59 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 428
Ket: peserta dan pembicara diskusi foto bersama
Foto: TFMW IDN-U/Didi Yakub
Singapura, LiputanBMI - Task Force Migrant Workers, Indonesian Diaspora Network-United (TFMW IDN-U) bersama Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia di Singapura (FKMIS) menyelenggarakan diskusi panel tentang pengembangan minat kewirausahaan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Diskusi dengan tema 'Pengembangan Kewirausahaan Pekerja Migran Indonesia' tersebut digelar di 400 Orchard Road, 07-04 Orchard Tower, Singapura, Sabtu (24/11/2018).

TFMW IDN-U adalah organisasi yang bertujuan untuk memberdayakan diaspora Indonesia, memperkuat jaringan mereka, dan memberikan kontribusi nyata kepada tanah air Indonesia.

Pengembangan minat kewirausahaan PMI hendaknya berbasiskan kebutuhan (demand driven). Demikian pernyataan Wakil Kepala Perwakilan RI di Singapura, Didik Eko Pudjianto saat membuka diskusi.

Ketika akan memulai usaha, menurut Didik, PMI sebaiknya mengenali apa yang dibutuhkan di tempat asalnya masing-masing.

“PMI sebaiknya memulai dengan mengenali apa yang dibutuhkan di tempat asalnya masing-masing. Kenali dengan baik dan mulailah dari situ. Tidak perlu mulai dari yang besar misalnya mesti berskala nasional atau untuk ekspor,” kata Didik dalam sambutannya.

Pernyataan ini disambut oleh Muhamad ‘Diko’ Shodiq, salah satu pembicara yang pernah beberapa tahun menjadi PMI di Korea. Diko mendirikan pabrik kerupuk di kota asalnya, Malang. Dia memulai usaha itu karena menyadari bahwa kerupuk adalah makanan sehari-hari masyarakat di sana.

Diko yang sudah kembali ke Indonesia sejak setahun terakhir, saat ini telah memiliki 3 pabrik kerupuk dan memiliki karyawan lebih dari 100 orang.

Sementara Eni Gandasari, purna PMI asal Kebumen, Jawa Tengah yang pernah bekerja selama 15 tahun di luar negeri bercerita tentang pengalamannya berwirausaha.

Eni sempat tidak memiliki apa-apa. Namun, dia berhasil bangkit dan sekarang mantap di bisnis perkopian. Bahkan, pernah mendapatkan berbagai penghargaan sebagai UKM yang berprestasi.

Dua pembicara lainnya adalah Theresia Kurniawan dari Development Group dan Sisi Sukiato dari Humanitarian Organisation for Migration Economic (HOME) memberikan presentasi tentang kegiatan pelatihan keterampilan dan pengembangan kewirausahaan yang dilakukan dua lembaga tersebut untuk pekerja migran di Singapura.

Program yang dirancang Development Group bertujuan mengembangkan 3C (Competence, Confidence, Connected). Dengan modal ini diharapkan PMI siap memasuki dunia wirausaha.

Sementara itu, HOME sendiri telah mengembangkan sekitar 16 kursus dengan ratusan lulusan setiap tahunnya. HOME adalah sebuah LSM di Singapura yang menaruh perhatian terhadap pekerja migran.

Diskusi mendapatkan banyak masukan dari PMI yang hadir tentang bisnis apa yang telah atau akan mereka lakukan di kota asalnya. Mereka berasal dari sejumlah kota di Jawa, NTB, dan Sulawesi.

Umumnya mereka ingin memperdalam ketrampilan tertentu seperti branding, marketing, akses ke pendanaan, dan lain-lainnya.

Masukan ini sangat bermanfaat bagi lembaga semacam Development Group dan HOME untuk membuat program yang mampu menjawab kebutuhan PMI.

Direktur Program TFMW IDN-U Didi Yakub dan presiden FKMIS Stephanus Wijaya bergembira sekali dengan antusiasme PMI mengikuti acara ini.

Diharapkan program lanjutan akan disiapkan ke depan untuk memfasilitasi pengembangan kewirausahaan PMI di Singapura bekerjasama dengan berbagai pihak.

(FK/FK, 25/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki