Berita > Seputar TKI
Makna Hari Pahlawan bagi Pekerja Migran
10 Nov 2018 16:16:13 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 572
Ket: Pekerja Migran Indonesia di Malaysia
Foto: Sucipto/PMi di Malaysia
Kuala Lumpur, LiputanBMI - Hari ini, 10 November, tujuh puluh tiga tahun yang lalu, arek-arek Suroboyo bersama masyarakat yang datang dari berbagai daerah di Jawa dan sekitarnya, bertempur habis-habisan melawan Inggris .

Di bawah kepemimpinan Bung Tomo, arek-arek Suroboyo berhasil mempertahankan kota Surabaya sekaligus mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, dalam sebuah pertempuran terberat dan terbesar dalam sejarah revolusi nasional setelah proklamasi kemerdekaan.

Peristiwa heroik itulah yang menjadikan tanggal 10 November ditetapkan menjadi Hari Pahlawan sebagai bentuk penghargaan kepada para pahlawan yang telah berjuang mati-matian dengan semangat yang berkobar-kobar walaupun konon hanya bersenjatakan bambu runcing.

Makna Hari Pahlawan

Hari Pahlawan tentu akan dimaknai secara berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang mana kita memaknai dan mengartikanya.

Bagi kami, para Pekerja Migran Indonesia, Hari Pahlawan mempunyai makna yang sangat mendalam akan arti sebuah perjuangan dan pengorbanan. Para pahlawan telah memberi keteladanan tentang semangat yang jangan sampai terpadam untuk sebuah cita-cita yang mulia.

Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, pertempuran besar dan hebat di Surabaya itu dalam rangka mempertahankan harga diri bangsa dan mempertahankan kemerdekaan.

Hari ini (dan entah sampai kapan), ribuan, bahkan jutaan kaum pekerja migran berjuang di negeri orang dengan mempertaruhkan harga diri, bahkan nyawa untuk sebuah cita-cita mulia mempertahankan kelangsungan hidup keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Mereka sanggup dan rela meninggalkan orang-orang tersayang di kampung halaman untuk berjuang, berusaha dengan segala daya upaya memerdekakan keluarganya dari keadaan yang tidak berkecukupan secara ekonomi karena di negeri sendiri kesempatan bekerja dan berkarya nyaris tidak ada.

Peristiwa 10 November telah melahirkan seorang Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional yang akan selalu dikenang dalam sejarah. Seorang pelopor dari kalangan masyarakat yang mempunyai pengaruh besar dalam memberi dan meningkatkan semangat juang kepada para pemuda ketika terjadi pertempuran di Surabaya.

Perjuangan kaum pekerja migran telah pula melahirkan ribuan, bahkan jutaan ‘Pahlawan Keluarga’ yang sudah pasti akan selalu diingat dan dikenang oleh keluarganya karena mau dan mampu berjuang untuk sebuah cita-cita hidup lebih layak, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-cucunya kelak.

Salah satu bukti nyata perjuangan kaum pekerja migran adalah berdirinya rumah-rumah megah di desa-desa yang mereka tinggalkan. Mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok sandang- pangan-papan, tetapi banyak di antaranya yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana.

Lebih dari itu, remitansi yang dikirim pekerja migran dari berbagai negara tujuan juga terbukti mampu menggerakkan ekonomi di daerah-daerah asal mereka.

Jika Bung Tomo bergelar Pahlawan Nasional, pekerja migran sering disebut dengan 'Pahlawan Devisa'.

Namun, lebih menjadi kebanggaan bagi kami ketika mampu menjadi Pahlawan Keluarga ketimbang disanjung dengan sebutan 'Pahlawan Devisa'.

Pekerja migran dianggap sebagai Pahlawan Devisa karena remitansinya. Akan tetapi di sisi lain, tangis duka lara masih saja ada ketika pekerja migran disiksa, tak dibayar gajinya, bahkan ada yang meregang nyawa karena dipancung kepalanya.

Selamat berjuang Pahlawan Keluarga!

***

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2018.

Merdeka!


(FK/FK, 10/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki