Berita > Seputar TKI
Selain Tuti Tursilawati, Inilah 5 PMI Yang Juga Dieksekusi Mati di Arab Saudi
01 Nov 2018 21:39:22 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 1837
Ket: Tuti Tursilawati (Jilbab Hitam) dan Ibundannya saat pertemuan terakhir di Arab Saudi yang dilakukan pada April 2018 lalu.
Foto: Tribun/PWNI DAN PWI Kemenlu
Jakarta, LiputanBMI - Nama Tuti Tursilawati menambah daftar panjang TKI yang dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi, sebelumnya juga ada beberapa TKI yang mengalami nasib serupa.

Sejak tahun 2008, setidaknya ada 5 TKI yang dieksekusi oleh Pemerintah Arab Saudi sebelum Tuti Tursilawati.

Melansir dari Grid.id, inilah daftar TKI yang dieksekusi mati oleh Arab Saudi sebelum Tuti Tursilawati.

1. Muhammad Zaini Misrin

Eksekusi mati terhadap Muhammad Zaini Misrin dilakukan pada 19 Maret 2018.
Zaini merupakan seorang TKI asal Bangkalan, Madura.
Migrant Care menyatakan bahwa Zaini telah ditahan pihak Arab Saudi sejak 14 Juli 2004 dengan tuduhan membunuh majikannya.
Zaini sendiri sudah bekerja di Arab Saudi selama lebih dari 30 tahun.
Ia divonis hukuman mati pada 17 November 2008 dan dieksekusi mati satu dekade kemudian.

2. Yanti Irianti

Yanti Irianti, TKI asal Cianjur dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi pada 11 Januari 2008.
Yanti divonis mati karena telah membunuh majikannya dengan kursi roda.

3. Ruyati

Eksekusi mati pada TKI bernama Ruyati dilakukan pada 18 Juni 2011.
Ruyati merupakan TKI asal Bekasi, Jawa Barat.
Ia divonis mati karena membunuh majikannya, Khariyah Hamid pada 12 Januari 2010.

4. Siti Zaenab

Pada 14 April 2015, seorang TKI bernama Siti Zainab kembali dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi.
TKI berusia 47 tahun itu dipidana atas pembunuhan terhadap istri majikannya, Nourah binti Abdullah Duhem Al Maruba pada tahun 1999.
Pada 8 Januari 2001, Zainab divonis hukuman mati.

Namun, dalam vonis pengadilan saat itu, pengampunan masih bisa diberikan karena menunggu ahli waris korban mencapai akil baliqh.
Sayangnya, upaya selama hampir 16 tahun untuk mendapatkan pengampunan itu akhirnya kandas.
Ketika ahli waris korban, Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi dinyatakan akil baliqh, ia menolak memberikan maaf pada Siti Zainab.
Akhirnya, Zainab pun dieksekusi mati pada 14 April 2015 silam.

5. Karni binti Medi Tasim

Hanya berselang dua hari setelah eksekusi mati Zainab, TKI asal Brebes, Jawa Tengah, Karni binti Merdi Tasim juga dieksekusi Pemerintah Arab Saudi.

Tepat pada 16 April 2015, eksekusi mati terhadap Karni binti Medi Tasim dilakukan.
Karni divonis hukuman mati karena membunuh anak majikannya saat tidur.

Pada Rabu, 26/10/2012, Karni membunuh anak majikannya yang masih berusia empat tahun.
Di lokasi kejadian juga ditemukan sebilah pisau yang terletak di samping jasad anak majikannya.

Seperti diketahui, Tuti Tursilawati bekerja di Arab Saudi sejak 5 September 2009 silam.
Tuti divonis mati pada Juni 2011 setelah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Arab Saudi dengan tuduhan membunuh majikannya pada 11 Mei 2010.

Menurut Migrant Care, Tuti saat itu melakukan perlawanan dari aksi percobaan perkosaan yang dilakukan oleh majikannya.
Nisma Abdullah, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia yang mendampingi kasus itu sejak awal, mengatakan, pembunuhan itu tak disengaja lantaran Tuti membela diri dari upaya pemerkosaan majikannya.

Yang sangat disayangkan, dalam kasus Tuti Tursilawati ini dilakukan tanpa adanya pemberitahuan lebih dulu terhadap Pemerintah Indonesia.

Dilansir dari Kompas, (31/10/2018), Presiden Joko Widodo pun menyesalkan tindakan ekseskusi mati yang dilakukan Arab Saudi terhadap TKI asal Majalengka, Tuti Tursilawati.

"Ya, memang itu patut kita sesalkan. Itu tanpa notifikasi", ujar Joko Widodo di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Rabu (31/10/2018).

Kesedihan Keluarga Tuti Tursilawati

Raut kesedihan terlihat jelas di wajah Iti Sarniti (52), warga Desa Cikeusik, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (31/10).

Sebentar-sebentar dia mengusapkan punggung pergelangan tangan pada kedua kelopak matanya.
Ibunda Tuti Tursilawati (33), tenaga kerja wanita (TKW) yang dieksekusi mati di Arab Saudi pada Senin (29/10/2018) waktu setempat, berkali-kali mengucap kalimat tanya.

"Mengapa anak saya dihukum mati? Dia korban perkosaan, mengapa bukan yang memperkosa yang dihukum, malah dia yang diekseksui mati?" kata Iti lirih.
Tuti yang bekerja di Kota Thaif, Arab Saudi itu dituduh membunuh majikannya, Suud Malhaq Al Utibi, pada 2010.
Tuti dieksekusi mati tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada keluarganya, maupun pemerintah Indonesia.

"Saya kaget dan sempat enggak percaya, karena infonya sangat mendadak," kata Iti lagi.
Iti yang mengenakan kerudung bercorak hitam putih itu tampak berusaha tegar meski tidak bisa menutupi kesedihannya.

Pascaeksekusi mati, jenazah Tuti Tursilawati, tidak dipulangkan ke Indonesia.
Iti menyebut jenazah anak sulungnya telah diurus Kerajaan Arab Saudi.
"Soal jenazah Tuti sudah diurus dan dikubur di Arab," ujar Iti Sarniti saat ditemui Tribun Jabar.
Ia mengatakan, kabar pemakaman jasad Tuti didapat berbarengan dengan informasi Tuti telah dieksekusi mati.

"Sedih iya, kecewa juga iya, apalagi informasinya sangat mendadak," ujarnya.
Kepala Desa Cikeusik, Jaenudin, menyebut pemerintah melalui Kemenlu RI telah berupaya maksimal untuk membebaskan Tuti.

Junaedi yang mewakili pihak keluarga mengapresiasi upaya yang dilakukan jajaran Kemenlu RI.
"Saya tahu sendiri pemerintah memperjuangkan betul dan membantu all out, dari awal mengawal terus kasus Tuti," ujar Jaenudin saat ditemui di rumah Tuti Tursilawati, Selasa (30/10).
Bahkan, perwakilan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Thaif setiap bulannya menjenguk Tuti di tahanan.

Selain itu, Kemenlu juga rutin menggelar pertemuan dengan pihak keluarga setiap tahunnya.
Dalam pertemuan itu, menurut Junaedi, Kemenlu menyampaikan perkembangan kasus Tuti dan upaya apa saja yang telah ditempuh.

"Saya beberapa kali ikut, pertemuan itu juga membahas upaya ke depannya seperti apa," kata Jaenudin.
Mewakili pihak keluarga, Jaenuddin menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas upaya yang telah dilakukan.

Jaenudin juga tidak bisa menyalahkan pemerintah mengenai tidak adanya pemberitahuan eksekusi terhadap Tuti.
Hal itu merupakan kewenangan Kerajaan Arab Saudi yang melaksanakan eksekusi itu.
"Sangat kecewa kepada pemerintah Arab Saudi, mereka baru memberitahu setelah Tuti dieksekusi," ujar Jaenudin.

Menurut Jaenudin, sebelum dieksekusi, dia sering melihat langsung almarhumah Tuti menghubungi keluarganya melalui sambungan telepon.
"Ya kadang ikut ngobrol juga, sekadar tanya kabar dan kasih semangat," kata Jaenudin.
Ia mengatakan, biasanya Tuti menelepon keluarganya setiap satu bulan sekali.
Tuti menelepon menggunakan ponsel petugas Konsulat Jenderal RI (KJRI) Thaif yang menjenguknya.

Selain telepon, menurut dia, sesekali Tuti juga menghubungi keluarganya melalui video call.
"Komunikasi itu rutin, petugas KJRI menjenguk Tuti minimal satu kali setiap bulannya," ujar Jaenudin.

Oleh karena itu, keluarga kecewa atas tindakan Kerajaan Arab Saudi terhadap Tuti.
"Keluarga sangat kecewa, seharusnya sebelum dieksekusi ada pemberitahuan ke keluarga," tuturnya.

Bahkan, menurut dia, sebelum mengeksekusi Tuti Kerajaan Arab Saudi juga tidak menginformasikannya ke pemerintah Indonesia.
Pemberitahuan itu baru disampaikan ke Kemenlu RI setelah proses eksekusi terhadap Tuti dilaksanakan.

Jaenudin mengatakan, pihak keluarga baru mendapat kabar dari petugas Kemenlu RI bahwa Tuti telah dieksekusi mati pada Selasa (30/10/2018) dinihari kira-kira pukul 01.00 WIB.
"Dari Kemenlu menelepon ke keluarga, jenazahnya juga sudah diurus dan dikuburkan di Arab Saudi," ujar Jaenudin.

(Sumber : TribunNews)



(JWD/JWD, 01/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki