Berita > Seputar TKI
Patimah, PMI Asal Karawang 7 Tahun Tertahan di Suriah
01 Oct 2018 15:51:16 WIB | Juwarih | dibaca 762
Ket: Patimah, PMI asal Dusun Pasar, RT 001, RW 001 Desa Kampung Sawah, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang tertahan oleh majikannya di Hama, Suriah.
Foto: Keluarga PMI
Karawang, LiputanBMI - Patimah binti Dailan Sakam (41), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Karawang, Jawa Barat yang bekerja sebagai PRT di Suriah, selama 7 tahun tidak bisa pulang kampung lantaran tak diizinkan oleh majikannya.

Perempuan warga Dusun Pasar, RT 001, RW 001 Desa Kampung Sawah, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, tersebut selain tertahan kepulangannya, gajinya pun tertahan dan tidak diberi kebebasan untuk berkomunikasi dengan keluarganya di Karawang.

Hal tersebut disampaikan Neneng, adik kandung Patimah kepada LiputanBMI melalui pesan WhatssApp, Senin 1 Oktober 2018.

"Kakak saya kerja sudah tujuh tahun tapi tidak bisa pulang karena selalu ditahan oleh majikannya. Gajinya pun tidak lancar serta susah untuk berkomunikasi denga keluarga," ungkap Neneng.

Neneng menceritakan, awalnya pada bulan September 2011 Patimah direkrut oleh Aas, sponsor warga Desa Kamurang, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, kemudian diterbangkan ke Suriah pada 14 Oktober 2011.

Di Suriah Patimah bekerja sebagai PRT kepada majikan bernama Muhammad Husam Al-Haiban di daerah Hama.

"Selama tujuh tahun bekerja, kakak saya baru dapat gaji totalnya sebesar Rp 20 juta yang dikirim ke keluarga," kata Neneng.

Neneng dan keluarganya berharap kepada pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Damaskus bisa membantu untuk menangani permasalahan kakaknya agar bisa pulang ke Indonesia.

"Keluarga berharap KBRI Damaskus bisa membantu menangani permasalahan kakak saya agar bisa dipulangkan dengan membawa hak-haknya," harapnya.

Selama ini, kata Neneng, pihak keluarga sudah sering menenui pihak sponsor, tetapi hingga saat ini hasilnya nihil.

"Bapak saya sudah sering kali minta bantuan ke sponsor, tetapi hanya dapat jawaban PJTKI-nya sudah tutup jadi tidak bisa bantu," kata Neneng.

Selain ke Sponsor, Neneng mengaku dirinya sudah pernah menyampaikan pengaduan ke pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus melalui pesan WhatsApp ke seorang staf bernama Kholik, pada 25 September 2018 kemarin.

"Tahu informasi kakak saya bekerja pada majikan bernama Muhammad Husam Al-Haiban dan tinggal di daerah Hama itu dapat info dari pak Kholik. Namun ketika saya tanya perkembangan permasalahan kakak saya jawabnya tidak tahu," pungkasnya.

(JWR/FK, 01/10)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki