Berita > Seputar TKI
Lagi, PMI Asal Indramayu Terdampar di Irak, Menangis Minta Dipulangkan
16 Sep 2018 16:22:05 WIB | Juwarih | dibaca 4637
Ket: PMI a.n Titin Umiyati binti Dulkamid, Menanganis Minta Dipulangkan dari Erbil, Irak.
Foto: LiputanBMI.com
Indramayu, LiputanBMI - Lagi, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan asal Indramayu terdampar di Irak. Sambil menangis, PMI bernama Titin Umiyati binti Dulkamid (29) itu meminta pertolongan pemerintah untuk segera memulangkannya ke Indonesia.

Warga Blok Karanganyar, RT 014/RW 03, Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tersebut minta dipulangkan karena sudah dua bulan tidak bekerja.

"Tolong bantu saya agar bisa pulang, saya sudah tidak punya apa-apa karena sudah dua bulan ini tidak bekerja. Sekarang pun untuk bertahan hidup saya hanya mengharap belas kasihan dari teman saya yang dari Bandung," ucap Titin sambil menangis kepada LiputanBMI, Sabtu (15/9/2018).

Dari keterangan Titin kepada LiputanBMI terungkap, dirinya bisa sampai ke Irak pada awalnya direkrut oleh sponsor bernama Asna, warga Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat yang dikenal melalui Facebook. Ketika itu, Titin dijanjikan akan dipekerjakan ke Turki dengan gaji USD 700.

Pada 7 November 2017 Titin dibawa Asna ke Jakarta dan dikenalkan dengan Wawan untuk diproses sebagai calon PMI ke Turki. Ia hanya mengikuti proses satu minggu di penampungan kemudian dibawa oleh Wawan ke Surabaya, melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada 15/11/2017.

"Dari Bandara Juanda, Surabaya saya diantar oleh Yasin ke Malaysia. Dari Kuala Lumpur kemudian transit di Qatar dan dilanjutkan perjalanan ke Turki," kata perempuan beranak satu tersebut.

Setibanya di Turki, Titin dijemput oleh perwakilan dari agency Farmoo Manpower Co. Ltd. Kemudian, oleh pihak agency dibawa ke Erbil Kurdistan, Irak pada 26 November 2017 .

Sepuluh bulan bekerja di Irak, Titin sempat lima kali ganti majikan. Terakhir, Titin bekerja selama tiga bulan kepada majikan bernama Karwan dan istrinya bernama Aisyah. Ia memutuskan untuk kabur dari rumah majikan karena sering diperlakukan tidak manusiawi.

"Dari majikan pertama sampai majikan terakhir saya selalu diperlakukan kasar oleh mereka. Mengadu ke agency pun malah saya dicaci-maki dan dipukul," keluh Titin.

Titin berharap sekaligus memohon kepada pemerintah Indonesia melalui perwakilannya yang di Baghdad agar dapat memberikan perlindungan, menyelamatkan dan memulangkannya ke kampung halaman.

"Saya sangat berharap KBRI yang di Baghdad bisa membantu mengurus kepulangan saya," harapnya.
(JWR/FK, 16/09)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki