Berita > Seputar TKI
PMI Pasutri Indramayu Terbebas Hukuman Mati, Wiralodra Community SA Apresiasi Kinerja KBRI Riyadh
29 Jul 2018 01:36:20 WIB | Juwarih | dibaca 1981
Ket: Kiri Tohirin dan Nurnengsih, Kanan Tohirin dan Kang Dul di Wiralodra Community Saudi Arabia
Foto: Kang Dul
Riyadh, LiputanBMI - Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi asal Indramayu yang tergabung dalam Wiralodra Community Saudi Arabia, mengapresiasi kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh yang telah membebaskan Tohirin dan Nurnengsih dari hukuman mati.

Tohirin dan Nurnengsih merupakan pasangan suami istri warga Blok Mangir, Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat yang keduanya sempat terancam hukuman mati oleh pengadilan di Riyadh atas tuduhan sihir pada Januari 2016 silam.

"Kami atas nama komunitas PMI asal Indramayu di Arab Saudi mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kinerja KBRI Riyadh yang sudah membebaskan kedua anggota kami dari hukuman mati," ucap ketua Wiralodra Community Saudi Arabia, Abul Aziz Rasman alis Kang Dul, kepada LiputanBMI melalui pesan elektronik, Jumat (27/7/2018).

Kang Dul menceritakan, awalnya Tohirin dan Nurnengsih bekerja pada majikan bernama Sanad Al-Zuman selama 13 tahun, namun keduanya memutuskan untuk pindah bekerja di Madrasah Darul Bayan sambil membawa kedua anak perempuannya untuk disekolahkan di madrasah tersebut.

"Setelah Tohirin dan istrinya pindah bekerja dari majikannya ke Madrasah, selang waktu 2 tahun secara mengejutkan mereka didatangi oleh Intel kepolisian setempat dan kemudian keduanya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Al-Akik atas laporan dari mantan majikannya dengan tuduhan telah menyantet istri dan anaknya," ujar Kang Dul.

Lanjut Kang Dul, Tohirin ditahan hanya dua minggu sedangkan istrinya ditahan selama 10 bulan dikarenakan yang dilaporkan oleh mantan majikannya adalah Nurnengsih yang dituduh melakukan santet.

"Saat ditangkap oleh kepolisian Al Akik, Nurnengsih kondisinya sedang hamil sehingga sampai melahirkan anak laki-laki di dalam tahanan," tutur Kang Dul.

Setelah Tohirin dan Nurnengsih ditahan, kemudian pihak KBRI Riyadh membantunya dengan menyediakan pengacara untuk membantu mengeluarkan keduanya dari jeratan hukum mati.

Melalui 4 kali proses persidangan termasuk mengajukan banding oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), akhirnya keduanya dapat terbebas dari ancaman hukuman mati tindak pidana sihir.

"Kalau ketiga anaknya sekitar tiga bulan yang lalu sudah dipulangkan kini hanya menunggu exit permit Nurnengsih saja yang masih belum dapat, kalau sudah dapat harapanya ingin balik ke Indramayu dapat terwujud," tutupnya. 
(JWR/IYD, 29/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki