Berita > Seputar TKI
Begini Gambaran Tarhil Sumayshi Rudenim Bagi WNI Overstayer di Arab Saudi
27 Jul 2018 03:35:26 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1391
Ket: Tarhil Sumayshi
Foto: doc.fb KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Bagi para mantan WNI overstayer di Arab Saudi nama Tarhil Sumayshi mungkin tidak asing lagi. Bahkan, akan menjadi pengalaman dan kenangan yang tidak bisa dilupakan. Namun, bagi sebagai WNI overstayer yang belum pernah singgah, Tarhil Sumayshi mungkin menjadi momok yang menakutkan karena dianggap seperti penjara pada umumnya.

Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang terletak di distrik Sumayshi ini berada di perbatasan kota Jeddah dan Makkah. Tarhil ini dibangun di atas lahan seluas 250 hektar dan diresmikan pada tahun 2013. Selain itu Tarhil yang mampu menampung 31.500 orang ini memikili 6 sektor yang setiap sektornya memiliki 70 barak dan setiap barak mempunyai kapasitas tampung untuk 75 orang.

Menurut Koordinator Perlindungan Warga (KPW) KJRI Jeddah, Safaat Ghofur, bagi WNI overstayer yang akan pulang melalui Tarhil Sumayshi tidak perlu takut, karena di dalam Tarhil diberi makan 3 kali sehari dan ruangan yang dilengkapi AC.

"Jadi jangan digambarkan bahwa itu suatu penjara yang menakutkan atau tempat yang tidak menyengangkan," ujarnya sebagaimana dikutip dari Live Streaming Facebook KJRI Jeddah, Sabtu (21/7/2018).

Berdasarkan data yang dikeluarkan KJRI Jeddah, pemulangan WNI overstayer sejak tahun 2015 terus mengalami penurunan. Pada tahun 2015, WNI overstayer dideportasi sebanyak 12.408.

Tahun 2016 sebanyak 8.162, tahun 2017 sebanyak 5. 635, dan hingga pertengahan tahun 2018 sekitar 3.805. Untuk jemaah haji yang menggunakan visa umrah pada tahun 2017 sebanyak 229.

Berikut rangkuman pemahamam proses exit di Tarhil Sumayshi yang dipaparkan Pelaksana Konsuler-2 KJRI Jeddah, Rahmat Aming pada acara Sosialisasi Kekonsuleran Tarhil Sumayshi yang disiarkan langsung Facebook KJRI Jeddah, Sabtu (21/7/2018).

Warga Negara Indonesia (WNI) yang dapat ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) adalah bagi WNI yang melanggar aturan imigrasi, PMI yang tidak bekerja pada majikan (kafil), PMI yang dilaporkan kabur oleh majikannya (balagh huroob), mereka yang menyembunyikan, menampung atau mempekerjakan pekerja ilegal, berhaji tanpa tasreh dan berhaji menggunakan visa umrah overstayer.

Setelah masuk ke Tarhil Sumayshi, WNI akan melalui proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan menunggu proses penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dari KJRI Jeddah.

Selanjutnya KJRI Jeddah akan melakukan proses akurasi data WNI overstayer melalui SIMKIM, scan foto di Tarhil, memasukan data SPLP dan cetak, meminta tandatangan pejabat berwenang.

Sementara pihak imigrasi (Jawazat) di Tarhil Sumayshi akan menerima penyerahan SPLP di Qism Safar sekaligus memisahkan exit dengan berkasnya dan pencocokan exit dengan SPLP yang telah diterbitkan. Pelaporan penyerahan SPLP ke bagian sensus sekaligus menyinkronkan data penyerahan SPLP dengan data penerbangan yang sebelumnya telah diserahkan ke pihak jawazat

KJRI Jeddah akan melakukan koordinasi dengan Jawazat terkait keterlambatan exit dan penyelesaian kasus, dll. Kemudian SPLP yang ditelah diserahkan ke Jawazat akan diserahakan Jawazat ke pihak penerbangan Saudi Airline

Alur penerbitan exit bagi WNI yang memakai visa kerja dan ziarah meliputi, Istiqbal (penerimaan tahanan), Tahqiq (bagian penyidikan), Mulahazot (bagian kasus), Tanfiz (bagian eksekutor penerbitan exit) dan Qism Safar (penerbitan exit).

Sementara untuk alur penerbitan exit bagi WNI yang menggunakan visa umrah meliputi Istiqbal (penerimaan tahanan) dan Qism Safar (penerbitan exit). Meskipun proses pemulangan visa umrah lebih mudah, menurut Rahmat Aming jika sidik jari terdeteksi akan melalui alur seperti visa kerja.

Bagi para pelanggar aturan imigrasi saat ini berlaku denda hingga SR 100 ribu dan penjara maksimal 5 tahun lamanya. Sementara bagi pelanggar visa umrah overstayer akan dikenakan denda sebesar SR 50 ribu atau setara Rp 180 juta dan kurungan penjara 6 bulan hingga 2 tahun.

(IYD/IYD, 27/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki