Berita > Seputar TKI
30 PMI Tenaga Supir di Arab Saudi, Mengaku Belum Terima Gaji dari Sarikah Arco
20 Jul 2018 01:59:26 WIB | Juwarih | dibaca 2790
Ket: Sejumlah PMI asal Jawa Timur, Jawa Barat dan NTB yang belum terima gaji dari Sarikah Arco di As Sahab, An Nazim, Riyadh 14813, Arab Saudi
Foto: Mochammad Mukhlisin
Riyadh, LiputanBMI - Sebanyak 30 orang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur, Jawa Barat dan NTB yang bekerja sebagai sopir perumahan (House Driver) di As Sahab, An Nazim, Riyadh 14813, Arab Saudi menuntut hak gaji yang belum dibayar selama 2-4 bulan oleh Sarikah Arco.

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu perwakilan pekerja migran tenaga sopir perumahan bernama Mochammad Mukhlisin (27), PMI asal Surabaya, Jawa Timur kepada LiputanBMI melalui sambungan telepon di Riyadh, pada Kamis (19/7/2018).

"Ada sekitar 30 orang PMI di penampungan Sarikah Arco hingga saat ini sudah dua bulan bahkan ada yang sudah 4 bulan belum terima gaji," ucap Mochammad Mukhlisin.

Mukhlisin menjelaskan, berdasarkan isi di dalam perjanjian kerja (PK) antara dirinya dengan pihak Sarikah Arco menyebutkan lima hari sejak keberadaan PMI di Arab Saudi maka setiap akhir bulannya akan mendapatkan hak gaji sebesar SR 1200 perbulan, kecuali di bulan pertama.

"Berdasarkan perjanjian kerja saya dengan Sarikah Arco yang sudah ditandatangani, saya dan teman-teman berhak mendapat gaji dalam tiap bulannya walaupun belum pernah dipekerjakan. Namun sudah 2 bulan bahkan ada yang sudah 4 bulan belum terima gaji," ucap Mukhlisin.

Bukan hanya masalah gaji, Mukhlisin dan teman-temannya mengeluhkan atas ketidak adilan pihak Sarikah Arco yang tidak memberikan uang makan sama sekali pada saat bekerja, sehingga banyak PMI tidak makan selama 2 hari karena tidak dikasih makan oleh pihak pengguna jasa (majikan).

Selain itu, ketika ada PMI yang selesai masa kontrak dengan pihak ketiga selama 3 bulan, pada saat kembali ke mess pihak Sarikah sering memotong gaji yang tidak diatur dalam isi perjanjian kerja.

"Bukan saja masalah gaji yang belum dibayar, namun perlakuan Sarikah terhadap PMI saya anggap tidak adil karena ada yang selama 2 hari tidak makan dan jika ada yang sudah finish gajinya dipotongan untuk bayar tinggal di penampungan. Ini jelas tidak adil," keluh Mukhlisin.

Mereka (red. Mukhlisin dan temannya) berharap perwakilan pemerintah Indonesia yang ada di Riyadh dapat membantu untuk menyelesaikan permasalahannya dengan pihak Sarikah Arco.

(JWR/IYD, 20/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki