Berita > Opini
Jangan Kerja ke Arab Saudi, Kamu Gak Akan Kuat ! Biar Aku Saja
29 Jun 2018 04:46:38 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 6371
Ket: ilustrasi
Foto: Google
Jeddah, LiputanBMI - Menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) adalah pilihan terakhir ketika sedang terimpit masalah ekonomi keluarga, sementara di kampung halaman begitu susahnya mencari pekerjaan.

Selain negara di kawasan asia-pasifk, Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya merupakan negara tujuan yang banyak dipilih calon pekerja migran Indonesia karena prosesnya yang cepat dan uang fee yang lumayan besar.

Maka tak heran, saat calon PMI yang akan bekerja ke Arab Saudi, yang pertama terlintas dalam pikiran adalah uang fee yang akan diberikan sponsor atau perekrut. Hal itu merupakan jalan pintas untuk mendapatkan uang jutaan rupiah dengan hanya memberi kesanggupan siap diberangkatkan.

Setelah proses mulai dilakukan dan tinggal di penampungan, calon PMI akan mulai sadar bahwa Arab Saudi merupakan negara yang terlarang bagi PMI yang bekerja di sektor perumahan. Calon PMI biasanya akan disuruh berbohong oleh pihak perekrut saat membuat paspor untuk mengatakan negara tujuan adalah Asia Pasific, seperti Malaysia, Hong Kong dan Taiwan.

Di saat waktu penerbangan kian mendekat, munculah rasa takut itu tentang gambaran Arab Saudi yang kultur budayanya berbeda, rumah majikan yang besar dan orang-orangnya yang galak sehingga tidak adanya persiapan mental bagi calon PMI.

Sejak tahun 2011 diberlakukannya moratorium, pengiriman PMI ke Arab Saudi adalah Unprosedural yang tidak diketahui atau disetujui oleh pemerintah sehingga PMI yang diberangkatkan tidak memiliki surat perjanjian kerja (PK) yang dilegalisasi KBRI/KJRI dan tidak mengikuti pembekalan akhir pemberangkatan (PAP).

Setelah tiba di Arab Saudi, kondisi mental para PMI akan bertambah ciut karena tidak langsung bekerja pada majikan, tetapi terlebih dahulu tinggal dipenampungan dengan puluhan bahkan ratusan pekerja lainnya menunggu selesainya pembuatan iqamah (resident identity), asuransi dan ATM Bank.

Untuk bekerja pun, para PMI harus mengadu nasib menunggu calon pengguna jasa (majikan) yang membutuhkan mereka. Ada yang menunngu sebulan langsung bekerja, bahkan ada yang sampai 3-4 bulan menunggu di penampungan.

Dengan sistem sarikah yang saat ini digunakan, para PMI harus rela berpindah-pindah rumah pengguna jasa sesuai kontrak kerja antara pengguna jasa dengan pihak sarikah.

Selain itu kondisi pekerjaan akan sangat berat diberikan majikan karena merasa telah membayar mahal kepada pihak sarikah. Sementara PMI akan merasa telah dijual oleh pihak sarikah karena hanya menerima gaji separuh dari jumlah yang diberikan pihak pengguna jasa kepada sarikah.

Hal inilah yang membuat banyaknya PMI yang baru datang ke Arab Saudi melalui sarikah mengeluh ingin pulang. Penyebabnya bisa jadi karena tidak adanya persiapan mental, hanya coba coba karena ingin uang fee saja atau apa yang dijanjikan perekrut tidak sesuai dengan apa yang dialami PMI.

Maka jangan coba-coba untuk bekerja ke Arab Saudi, kamu tidak akan kuat jika tidak memiliki mental baja dan jiwa yang tangguh.
(IYD/IYD, 29/06)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki