Berita > Seputar TKI
KJRI Jeddah Pulangkan WNI Overstayer Penderita Stroke
28 Jun 2018 19:42:45 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 915
Ket: Konsul Naker, M Yusuf (kiri) bersama Otong Barnas mengangkat UM ke Mobil
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Jeddah Arab Saudi, kembali memulangkan seorang WNI overstayer yang menderita sakit stroke pada Kamis, 28 Juni 2018. WNI bernama Usniyah Muhammad (UM) ini berasal dari Bangkalan, Jawa Timur dan berangkat ke Arab Saudi dengan suaminya sekitar 10 tahun silam dengan visa umrah.
 
Perempuan kelahiran 1962 ini sempat dirawat selama 19 hari di rumah sakit King Abdulaziz Jeddah. Ia kemudian diizinkan dibawa keluar oleh KJRI setelah kondisinya dinyatakan membaik oleh rumah sakit.
 
Selanjutnya, UM diistirahatkan di asrama singgah sementara (shelter) KJRI, sambil menunggu pengurusan exit permit (izin keluar) dari jawazat (imigrasi) Arab Saudi dan Medical Information Form (MEDIF) atau keterangan layak terbang yang dikeluarkan rumah sakit.
 
"Sesuai aturan pemerintah Saudi, warga asing ilegal  tidak mendapatkan akses atau  layanan kesehatan, karena tidak dicover asuransi. Pemerintah Saudi tidak mau menanggung beban biaya pengobatan warga ilegal," terang Muchamad Yusuf, Konsul Tenaga Kerja KJRI Jeddah sebagaimana keterangan tertulis yang diterima LiputanBMI, Kamis (28/6/2018).
 
Oleh karena itu, tim ketenagakerjaan KJRI Jeddah melakukan upaya pendekatan kepada pimpinan rumah sakit untuk memohon keringanan atau penghapusan biaya perawatan bagi UM dan izin membawa dia keluar dari rumah sakit.
 
Tidak hanya biaya rumah sakit, tim  juga harus melobi pejabat tarhil (pusat karantina imigrasi)  agar UM dibebaskan dari denda atas pelanggaran keimigrasian.
 
"Dia kan dipulangkan tidak melalui tarhil  dan tidak melalui proses penangkapan, jadi harus membayar denda. Tapi, kami tetap mengupayakan pembebasan denda. Kami sudah berkali-kali dihadapkan dengan kasus semacam ini," imbuh Konsul Tenaga Kerja ini.
 
Terkait biaya pemulangan, KJRI Jeddah membicarakan secara kekeluargaan dengan majikan yang mempekerjakan UM agar turut membantu pemulangan dia ke Tanah Air. Beruntung, majikan UM yang tinggal di kilometer 5, Jeddah, ini tergolong dermawan. Dia rela mengeluarkan dana senilai SR 16.900 atau setara Rp 61 juta dengan rincian, 11.500 riyal tiket pesawat kelas bisnis, 4 ribu sebagai ikramiah (uang hadiah) dan tambahan 1.400 riyal untuk kompensasi keterlambatan gaji.
 
Konjen RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, mengimbau siapapun warga Indonesia yang hendak bekerja ke luar negeri agar menempuh jalur yang resmi, sehingga mendapatkan perlindungan yang maksimal dari pemerintah saat bekerja di negara penempatan. 
 
"Dalam menjalankan amanat perlindungan, KJRI memang tidak melihat statusnya apakah ilegal atau legal, berdokumen atau tidak, dengan visa kerja, umrah, ziarah atau lainnya. Namun, demi keamanan dan perlindungan selama bekerja di luar negeri, WNI wajib mengikuti prosedur yang berlaku," tegas Konjen.  
 
Oleh karena itu, Konjen terus mengingatkan masyarakat agar tidak tertipu dengan upaya calo yang menawarkan kerja, khususnya ke Arab Saudi, karena penempatan pekerja informal ke Arab Saudi, khususnya domestic worker (asisten rumah tangga) sudah ditutup.
 
"Jangan berangkat membawa masalah, nanti saat bekerja mendapat masalah lagi, dan terus menambah masalah. Ya, itu karena berangkat diawali dengan masalah, berangkat tidak sesuai prosedur," tambah Konjen.
 
Ibu dari empat anak yang mengaku berasal dari Bangkalan, meski di SPLP tertera berasal dari Pamekasan  ini, dipulangkan ke Tanah Air dan dijadwalkan tiba pada Kamis, 28 Juni.
(IYD/IYD, 28/06)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki