Berita > Seputar TKI
Hari Pelaut Sedunia, PPI Sebut Kondisi Pelaut Indonesia Miris!
26 Jun 2018 10:57:36 WIB | Syafii | dibaca 1639
Ket: Ilustrasi Seafarer Day
Foto: Dok. PPI
Dunia, LiputanBMI - Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) menyatakan aspirasi pelaut, baik perlindungan (keamanan dan keselamatan berlayar) maupun kesejahteraan pekerja di kapal patut menjadi prioritas perhatian bagi pemerintah untuk ditingkatkan.


Ketua Pelaut Dalam Negeri PPI, Nur Rohman mengatakan mayoritas pelaut yang bekerja di kapal-kapal nasional belum terjamin perlindungan dan kesejahteraanya.


"Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kapal dan upah murah yang dialami oleh pelaut terjadi akibat minimnya pengawasan dan penegakkan hukum yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenhub dan Kemnaker," ujar Nur Rohman kepada Liputan BMI saat dihubungi via seluler, Senin (25/6/18).


Bertepatan dengan hari pelaut sedunia yang jatuh pada tanggal 25 juni, PPI mengingatkan kepada pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap kondisi miris pelaut Indonesia baik dari sisi perlindungan maupun kesejahteraan.


Salah satu contoh kondisi miris pelaut dari sisi kesejahteraan, PPI menyebut persoalan upah murah yang mayoritas dialami oleh para pelaut yang bekerja di pelayaran nasional.


"Pelaut dituntut untuk memiliki segudang sertifikat kepelautan berstandar internasional, yang biaya pengambilannya tidak murah dan perlu waktu yang tidak sebentar. Sementara, bicara upah kalah dengan buruh pada umumnya (darat)," ungkapnya.

Menurut PPI, semestinya pemerintah melalui Kemenhub dan Kemnaker sebagai regulator dapat segera menerbitkan regulasi yang mengatur tentang tata kelola penempatan dan perlindungan serta upah sektoral bagi pelaut dengan melibatkan unsur asosiasi pengusaha pelayaran dan serikat pekerja pelaut untuk mewujudkan hubungan industrial kepelautan yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.

"Semoga di hari pelaut sedunia di tahun 2018 ini, pemerintah semakin peduli dan peka terhadap aspirasi pelaut Indonesia," pungkasnya.
(IS/IS, 26/06)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki