Berita > Seputar TKI
Mantan Majikan Datangi Rumah TKI Yang Bebas Dari Hukuman Mati
05 May 2018 21:02:13 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 5152
Ket: Ghalib Nasir Albalawi bertemu dengan Plt Bupati Cirebon Selly Andriani Gantina di pendapa kabupaten. Dia datang ke Cirebon untuk ke rumah Masamah, TKW yang lolos dari hukuman mati
Foto: JawaPos
Cirebon, LiputanBMI - Sepasang suami istri dari Arab Saudi mendatangi rumah Masamah, TKI yang bebas dari hukuman mati, di Desa Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Pertemuan itu singkat saja, hanya sekitar 15 menit. Tapi bagi Masamah Raswa Sanusi, demikian berarti begitu mengharukan. Sebab, yang datang ke rumahnya adalah mantan majikannya di Arab Saudi. Majikan yang memaafkannya hingga mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) itu lolos dari hukuman mati.

Kepada Masamah, suami istri Ghalib Nasir Albalawi dan Fateen mengaku sengaja datang untuk menengok keadaan dirinya dan keluarga. "Tadi pengin ketemu anak saya dan sudah sempat ketemu. Ketemu sama keluarga lainnya juga," kata Masamah kepada Radar Cirebon.

Ghalib dan Fateen juga memperlihatkan kepada Masamah foto dua anak mereka yang terakhir. "Jadi, anak majikan saya tiga. Dua yang terakhir saya belum pernah ketemu karena lahir saat saya dipenjara," kata perempuan 36 tahun yang kembali tiba di Cirebon pada 31 Maret lalu itu.

Masamah berangkat ke Arab Saudi pada 2009. Tujuannya sama dengan jutaan TKI lain: ingin mengubah nasib.

Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Ghalib yang kala itu punya dua anak kecil. Semua berjalan baik-baik saja sampai petaka datang menghampiri di bulan ketujuh dia di sana.

Pada suatu hari, Masamah mendapati anak majikannya yang paling kecil, yang berusia dua tahun, sudah meninggal dunia di dalam kamar. Masamah tak sendirian. Di dekat jenazah anak majikannya, juga berdiri kakak korban yang berusia 10 tahun.

Itulah yang membuat Masamah tak waswas. Sebab, ada saksi yang bisa menceritakan kejadian itu. "Karena memang saya juga tidak tahu kejadiannya (sehingga anak majikan meninggal, Red). Benar-benar tidak tahu," kenangnya.

Masamah kala itu refleks menutup mata anak majikannya itu sambil mengelap wajahnya. "Sudah biasa seperti itu, kebiasaan di sana. Makanya, saya lakukan saat tahu anak majikan itu sudah meninggal," lanjutnya.

Rupanya, hal itulah yang kemudian membawa persoalan untuk Masamah. Dia kemudian ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan. Barang buktinya adalah sidik jari yang menempel di tubuh bocah yang meninggal tersebut.

Si kakak korban, saksi yang diharapkan Masamah, ternyata tak mau buka mulut. Sama sekali tidak mau bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Nasibnya tambah runyam setelah polisi menyimpulkan bahwa Masamah melakukan pembunuhan dengan sengaja. Informasi itu, rupanya, diteruskan oleh polisi kepada pihak majikan.

Sang majikan pun menuntut hukuman mati. "Berusaha menjelaskan juga sudah nggak bisa. Saya langsung ditahan," ucap Masamah.

Untung, selama dipenjara, dia masih bisa bekerja. Dia dipercaya untuk membantu membersihkan kantor dan membuat sejumlah kerajinan tangan. Dari pekerjaan itu, dia masih bisa mengirimkan uang untuk keluarga di Cirebon.

"Saya digaji sekitar Rp 500 ribu. Saya tabung sampai akhirnya bisa kirim untuk keluarga di rumah, sekitar Rp 7 juta hasil nabung bertahun-tahun," katanya.

Pemerintah melalui kedutaan besar di sana juga terus memberikan pendampingan. Termasuk berkomunikasi dengan keluarga korban. Bahkan, banyak anggota keluarga besar majikannya yang rutin menjenguk.

Akhirnya, atas permintaan kakek korban yang tengah sakit, Ghalib dan Fateen memaafkan Masamah. Sesuai dengan hukum yang berlaku di Arab Saudi, maaf itu pun menghindarkan Masamah dari hukuman pancung.

Sebelum berkunjung ke rumah Masamah, Ghalib dan Fateen bertemu dengan Plt Bupati Cirebon Selly Andriani Gantina di pendapa kabupaten.
"Kami bertanya, mengapa mau memberikan maaf. Katanya karena ingin menerapkan kaidah-kaidah ajaran Islam, bahwa di Islam itu diajarkan untuk memaafkan," ujar Selly.

Alasan kedua, papar Selly, Ghalib juga memikirkan bagaimana kalau hukuman mati tersebut benar-benar terjadi. SemeĀ­ntara itu, Masamah memiliki anak, suami, dan keluarga lain.
"Mereka tak mau keluarga Masamah menjadi telantar akibat eksekusi yang dilakukan Arab Saudi," tuturnya.

Dengan bantuan penerjemah dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Ghalib membenarkan bahwa dirinya memberikan maaf karena diajari untuk memaafkan sesama muslim.

"Islam mengajarkan kepada umatnya agar saling menyayangi, mencintai satu dengan lainnya, dan saling membantu," ujarnya.

Source : JawaPos
(JWD/JWD, 05/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki