Berita > Seputar TKI
May Day 2018, Komunitas Serantau: Pekerja adalah Manusia, Bukan Mesin Kapitalis yang Terus Dipaksa Kerja
01 May 2018 20:49:13 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 688
Ket: Komunitas Serantau ketika menghadiri peringatan MayDay
Foto: dok. Serantau
Kuala Lumpur, LiputanBMI - ...Pekerja adalah manusia. Bukan mesin kapitalis yang senantiasa terus dipaksa bekerja, tanpa jeda, tanpa batas masa...

Kalimat tersebut adalah sepenggal bait puisi yang dibacakan oleh perwakilan pekerja migran asal Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Serantau dalam peringatan Hari Buruh (May Day) sedunia, 1 Mei 2018 di Malaysia.

Peringatan May Day di Malaysia tersebut diselenggarakan oleh Malaysian Trades Union Congress (MTUC) dan digelar di Wisma MTUC, USJ 9 Subang Jaya, Selasa (1/5).

Selain pekerja migran asal Indonesia dan para pekerja serta aktivis pekerja lokal, peringatan May Day yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi itu juga dihadiri pekerja/aktivis pekerja migran di Malaysia dari berbagai negara.

Dalam puisi berjudul ‘Cerita Pekerja’ yang dibacakan oleh Catur Rahayu, Komunitas Serantau menyampaikan beberapa pesan terkait kehidupan seorang pekerja migran.

Meskipun Hari Buruh sudah ditetapkan beratus-ratus tahun lalu, sebagai bukti kemenangan pekerja atas tuntutan delapan jam kerja, dalam puisinya Rahayu berkata, saat ini masih banyak pekerja yang masih diperbudak dan menjadi korban penyiksaan oleh majikan. Bahkan, masih ada yang bekerja tanpa ada batasan jam kerja.



“Suyantik menjadi mangsa dera, Adelina tercabut nyawa. Belum.lagi para pekerja rumah tangga yang tak boleh berhubung dengan keluarga. Banyak pula yang harus bekerja dari pagi hingga tengah malam menjelang pagi esok harinya. Sungguh, ini fakta yang teramat mencucuk mata,” kata Rahayu dalam puisinya.

Sementara Koordinator Komunitas Serantau, Nasrikah Sarah dalam pernyataannya mengatakan, masih banyak pekerja mendapat perlakuan tidak manusiawi. Bahkan masih banyak pekerja yang belum mendapatkan gaji yang layak, padahal mereka rela bekerja melebihi delapan jam kerja.

“Pekerja harus terus lantang bersuara. Sudah waktunya para pekerja mendapatkan gaji yang layak, bukan gaji minimal. Untuk mendapatkan itu, para pekerja harus bersatu, membangun solidaritas, melawan ketidak adilan,” katanya.

(FK/FK, 01/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki