Berita > Seputar TKI
28 Tahun Hilang Kontak di Arab Saudi, Nenek Qibtiyah Berhasil Ditemukan KBRI Riyadh
20 Apr 2018 07:27:50 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 4093
Ket: Nenek Qibtiyah (kanan) bersama Dubes Agus Maftuh
Foto: LBMI
Riyadh, LiputanBMI - KBRI Riyadh berhasil menyelamatkan seorang nenekI berusia 74 tahun yang putus kontak dengan keluarga selama 28 tahun. WNI tersebut bernama Jumanti binti Bejo Nur Had atau akrab disapa nenek Qibtiyah yang kini berada di rumah singgah KBRI Riyadh. Demikian tulis Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel dalam postingannya di akun Facebook, Kamis 19 April 2018.

Nenek Qibtiyah merupakan warga Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Jawa TImur yang datang ke Arab Saudi pada 14 Agustus 1990 saat masih berusia 46 tahun.

"Ketika bertemu, langsung kucium tangannya yang sudah menua seperti aku mencium tangan nenekku. Aku sangat yakin dalam diri nenek ini ada “Energi Tuhan” yang sedang ditransfer ke diriku melalui Direct Access Memory (DMA)). Nenek Qibtiyah pun langsung akrab menepuk-nepuk tangan dan pundakku seperti nenekku di Desa Kalikuning, Semarang menyayangiku," ujar Dubes Agus.

Lanjut kata Dubes Agus, KBRI Riyadh merespon cepat atas viralnya nenek Qibtiyah di media sosial yang dikabarkan telah hilang kontak selama 40 tahun di Arab Saudi.

"KBRI Riyadh langsung merespon dan melakukan pengecekan di database KBRI dan nama tersebut tidak ditemukan. Hal ini dipastikan bahwa nenek Qibtiyah, sejak datang ke Arab Saudi tidak pernah mengajukan perpanjangan paspor sehingga iqomah (izin tinggal di Saudi) juga tidak terdeteksi," terangnya.

Pelacakan dilakukan KBRI dengan menghubungi majikan (kafil) dan saudara-saudaranya untuk mencari titik terang keberadaan nenek Qibtiyah tersebut. Dan selanjutnya KBRI menemukan data bahwa Qibtiyah bekerja di rumah Nourah Mohammed al-Daerim di kota Riyadh.

"Keberadaan Qibtiyah mulai ada titik terang ketika KBRI Riyadh berhasil mendapatkan nomor kontak kakak kandung majikan Qibtiyah bernama Abdulaziz Mohammed al-Daerim. Tim Perlindungan WNI KBRI langsung intensif melakukan penelusuran dengan menghubungi WNI yang pernah berinteraksi dengan Qibtiyah Jumanah dan salah satunya adalah Niayah binti Kasimin yang bekerja di kakak majikan Qibtiyah. Niayah, WNI asal Malang ini menjadi sumber informasi strategis tentang keberadaan Qibtiyah," ungkapnya.

Namun upaya yang dilakukan KBRI Riyadh tidaklah mudah, pasalnya sang majikan berusaha untuk menghambat dan tidak koperatif dengan memberikan informasi menyesatkan kepada Tim KBRI bahwa Qibtiyah sudah dipulangkan ke Indonesia 3 bulan yang lalu. Tanggal 14 Maret 2018 KBRI Riyadh mengirimkan nota diplomatik ke Kemenlu Arab Saudi untuk meminta bantuan dalam menelusuri keberadaan Qibtiyah.

"Usaha ini belum membuahkan hasil sehingga pada tanggal 27 Maret 2018 sebagai pelayan rakyat, saya menulis surat khusus kepada Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud yang juga keponakan Raja Salman bin Abdulaziz untuk meminta bantuan pencarian Qibtiyah," paparnya.

"Gubernur Riyadh memerintahkan semua instansi di bawahnya untuk membantu KBRI Riyadh dalam menemukan nenek Qibtiyah. Dan akhirnya pada tanggal 18 April 2018, Nenek Asal Bondowoso ini bisa ditemukan dan dijemput Tim Pelayanan WNI KBRI Riyadh untuk diproses hak-haknya dan kepulangannya ke Indonesia," sambugnya.

Diakhir tulisannya, Dubes Agus mengatakan bahwa KBRI Ryadh telah membutikan jargonya yaitu "Kami datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Kami datang untuk WNI dan NKRI bukan untuk pamer jas dan dasi".

"Syukran Jazila untuk Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud," pungkasnya.
(IYD/IYD, 20/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki