Berita > Seputar TKI
15 Tahun Tidak Bisa Pulang, Darkem Malah Tidak Jelas Keberadaannya di Arab Saudi
19 Apr 2018 03:29:18 WIB | Juwarih | dibaca 2116
Ket: Darkem (kiri) Riyan (kanan)
Foto: LBMI
Indramayu, LiputanBMI - Darkem binti Jupang (51) pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Tegal Girang, Rt 009, Rw 004, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dikabarkan sudah 15 tahun tidak bisa pulang karena ditahan oleh majikannya di Arab Saudi. Ironisnya, 3 tahun ini keberadaannya malah tidak diketahui.

"Pada 4 April 2018 yang lalu, saya berusaha menghubungi nomor telepon anaknya majikan, namun katanya ibu saya sudah tidak lagi bekerja pada orang tuanya dan sudah keluar dari rumahnya," ucap Riyana Ade Saputra, anak kandung Darkem saat berada di sekretariat Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu, pada Rabu (18/04/2018).

Riyan menjelaskan, ibunya bekerja ke luar negeri direkrut oleh H. Juminah, warga Desa Gintung, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pada 13 Oktober 2003 diberangkatkan oleh PT Trisula Bintang Mandiri sebagai pekerja rumah tangga (PRT) ke Arab Saudi.

Oleh agency Al Shareef, ibunya dikerjakan pada majikan bernama Gazwa Shagar Al Hamadi, berdomisili di kota Arja, Dawadmi, Arab Saudi.

"Setelah 1 tahun bekerja di Arab Saudi, ibu saya baru bisa memberi kabar via surat ke keluarga menginformasikan bahwa ibu dalam kondisi baik, serta bekerja pada majikan bernama Gazwa Shagar Al Hamadi," jelas anak bungsu Darkem kepada LiputanBMI.

Riyan melanjutkan, setelah lama ibunya tidak ada kabar, pada 23 Maret 2014 orang tuanya sempat telepon untuk menginformasikan bahwa majikan akan memulangkan dan mengirim uang sebesar Rp 40 juta.

"Ibu saya hanya dijanji-janjikan akan dipulangkan pada kenyataanya hingga saat ini ibu belum juga dipulangkan," keluh Riyan.

Riyan menambahkan dirinya sebelum mengadukan permasalahan orang tuanya ke SBMI Indramayu, bapaknya sebelum meninggal dunia sudah beberapa kali mengadu ke sponsor dan ke pihak PJTKI yang bersangkutan.

"Waktu ayah saya masih hidup sudah sering mengadu ke PT Trisula Bintang Mandiri di Jakarta. Namun hingga ayah meninggal belum juga ada hasilnya," ungkapnya.

Riyan berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh bisa segera menemukan dan memulangkan ibunya ke kampung halamannya di Indramayu.

Sementara itu Ketua SBMI Indramayu, Juwarih, mengatakan pihaknya setelah mendapat pengaduan dari keluarga PMI pada 27 Januari 2017 sudah mengirimkan pengaduan ke KBRI Riyadh dan ke Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, Kementerian Luar Negeri di Jakarta.

"Selain mengirim surat pengaduan kami juga pernah datang langsung mendampingi keluarga ke Kemlu untuk menindaklanjuti pengaduan permasalahannya ibu Darkem," pungkasnya.
(JWR/IYD, 19/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki