Berita > Seputar TKI
18 Tahun Hilang Kontak, PMI Asal Indramayu ini Lupa Bahasa Indonesia 
06 Apr 2018 13:04:37 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 4360
Ket: Nurfaiyzah saat di KJRI Jeddah
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Tidak semua pekerja migran Indonesia (PMI) yang hilang kontak itu karena ulah pengguna jasa, sebagian karena memang keinginannya sendiri. Seperti yang terjadi pada Nurfaiyzah binti Casma Ali. Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di satu keluarga Saudi di Jeddah ini  telah 18 tahun putus komunikasi dengan keluarganya di Indramayu Jawa Barat, tepatnya  Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra. 
 
Anak tertua dari dua bersaudara ini meninggalkan bangku SMP dan nekat berangkat ke Arab Saudi di usianya yang masih belia. Saat itu usianya 13 tahun, namun dibuat tua oleh perusahaan yang memberangkatkannya. Di paspornya tertera Nurfaiyzah kelahiran 25 mei 1969.Ia dikirim ke Arab Saudi   oleh  perusahaan pengerah jasa TKI atau Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) Agrosin Marumi.
 
Dia mengaku tergiur untuk mengadu nasib di negeri Dua Tanah Suci itu setelah melihat kehidupan tetanggannya tampak lebih sejahtera setelah bekerja ke Arab Saudi.
  
"Saya lihat tetangga saya pada kerja ke Arab," ucapnya dalam aksen bahasa Arab yang kental. 
 
Tidak tampak sedikit pun di wajah perempuan 31 tahun  itu raut kesedihan dan rasa kangen  keluarga meski telah sekian lama berpisah. Saking lamanya tidak berkirim kabar tentang keberadaannya, keluarga Nurfaiyzah di kampung halaman mengaku pasrah dan berkesimpulan putrinya itu telah tiada.
 
"Di kampungnya sudah dikabarkan oleh keluarganya  dia udah meninggal," ujar Uung Fathurrahman, staf bagian ketenagakerjaan yang berupaya melacak keberadaan keluarga Nurfaiyzah dalam rilis yang diterima LiputanBMI, Jumat (6/4/2018).
 
Saat ditanya mengapa dia tidak berusaha menghubungi keluarganya di kampung, Nurfaiyzah bilang ia kehilangan nomor telepon orangtuanya. Demikian pula orang tuanya mengaku kehilangan nomor kontak dia.
 
Sampai pada suatu hari datanglah dia ke Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah diantar majikannya. Sang majikan meminta bantuan mencarikan alamat keluarga Nurfaiyzah di Tanah Air agar pembantunya itu bisa dipulangkan. Justru yang mendorong dia pulang  adalah majikannya.
 
Kepada petugas Nurfaiyzah mengaku dirinya tidak berpikir ingin pulang karena merasa betah tinggal bersama majikan. Kata dia majikannya memperlakukan dia seperti anaknya sendiri dan tidak terlalu dibebani banyak pekerjaan. Segala kebutuhannya dipenuhi. Gaji pun lancar meskipun, kata dia, disimpankan majikan di bank.
 
"Saya hanya nyeterika baju. Habis itu saya makan, tidur. Yang masak madam (majikan perempuan)," tuturnya.
 
Entah karena kasihan atau alasan lain, majikan membujuknya agar pulang dan menengok orangtuanya di kampung halaman.
  
"Pulanglah, tengok keluargamu, saudaramu, teman-temanmu. Bikin pesta buat mereka, karena  kamu sudah lama tidak bertemu. Kalau kamu mau kembali, ke sini lagi gak apa-apa," tutur Nurfaiyzah menirukan ucapan majikannya.
 
Di hadapan petugas, sang majikan berjanji memenuhi hak-hak Nurfaiyzah selama ia bekerja dengannya, namun tidak mau membayar di KJRI Jeddah melainkan melalui rekening bank atas nama pribadi Nurfaiyzah. Sang majikan ingin memastikan bahwa uang hasil jerih payah ARTnya itu benar-benar diterima oleh Nurfaiyzah. 
 
Dadi Muksin, bendahara Teknis Tenaga Kerja KJRI Jeddah, akhirnya meminta bantuan perwakilan BNI di Arab Saudi untuk membuatkan rekening atas nama Nurfaiyzah. Namun, upaya mentransfer uangnya melalui salah satu bank terbesar di Arab Saudi tidak berjalan mulus, pasalnya sang majikan pernah memiliki rekening di bank tersebut namun tidak pernah digunakan sehingga namanya diblokir di sistem.
 
Bersama sang majikan petugas mencoba beberapa bank, hingga mendatangi bank sentral di Jeddah. Pengiriman berhasil setelah pihak KJRI Jeddah melakukan pendekatan kepada sebuah bank yang bersedia mentrasfer uang tersebut ke rekening pribadi atas nama Nurfaiyzah.    
 
Delapan belas  tahun lamanya bekerja dan tidak berkomunikasi dengan keluarga membuat Nurfaiyzah lupa bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Dia mulai berkomunikasi dengan keluarganya setelah dirinya ditampung sementara di shelter KJRI. Beruntung sang ibu  bisa  berbahasa Arab karena juga pernah bekerja sebagai ART di Arab Saudi.
 
"Walaupun delapan belas tahun tidak bertemu  dengan keluarga dan dianggap yang bersangkutan sudah meninggal, tetapi  Pemerintah di sini berusaha menemukan keluarganya sampai dia (Nurfaiyzah) bertemu kembali dengan keluarganya di Indonesia," sela  Staf Teknis/Konsul Tenaga  Kerja Mochamad Yusuf saat mewawancari Nurfaiyzah di ruang kerjanya.
 
Atas alasan perlindungan dan guna memastikan agar PMI tidak putus komunikasi dengan keluarganya, Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah Mohamad Hery Saripudin mengingatkan di setiap kesempatan seperti pada saat pelayanan terpadu dan penyuluhan hukum agar setiap PMI memperbaharui kontrak kerja di KJRI bila masa berlakunya telah habis. Konjen juga mendorong PMI agar menyempatkan diri mengambil cuti pulang menengok keluarga di kampung halaman.
 
"Kadang niat mulia Pemerintah untuk memberikan perlindungan tidak sejalan dengan keinginan PMI. Seperti Nurfaiyzah ini, yang kayaknya tidak rasa kangen ketemu keluarga," ucap Konjen.
 
Nurfaiyzah Bt Casma Ali akhirnya dipulangkan oleh KJRI Jeddah pada Kamis, 5 April 2018.
(IYD/IYD, 06/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki