Berita > Seputar TKI
Kasus Pembunuhan di Guinea ABK WNI Hanya Membela Diri, PPI Sulut Minta Pemerintah Membantu
25 Mar 2018 03:19:16 WIB | Syafii | dibaca 3941
Ket: Sekretariat PPI Sulut
Foto: LBMIJKT/asd
Nasional, LiputanBMI - Bermaksud melakukan pembelaan diri ketika mendapat kekerasan di atas kapal oleh atasannya, YN (35) seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Bitung, Sulawesi Utara harus berhadapan dengan proses hukum di negara Guinea, Afrika Barat akibat membunuh seorang ABK asal Korea yang sebelumnya kerap melakukan kekerasan terhadap dirinya saat bekerja di atas kapal penangkap ikan KM Agnes 09.

Hal di atas disampaikan oleh Dewan Pimpinan Daerah Pergerakan Pelaut Indonesia Provinsi Sulawesi Utara pasca menerima pengaduan dari pihak keluarga YN yang datang ke sekretariat PPI Sulut di Kota Bitung, Kamis (22/03/18).

“Berdasarkan kronologis yang disampaikan oleh pihak keluarga, kejadian tersebut terjadi pada 2015 lalu. YN membunuh ABK asal Korea karena membela diri akibat sering dianiaya. Saat ini YN ditahan,” ujar Bendahara PPI Sulut, Anwar Abdul Dalewa kepada LiputanBMI melalui selulernya, Minggu (25/03/18).

Menurut Anwar, YN berangkat menjadi ABK melalui PT Koindo Maritim Power yang berdomisili di Jakarta Pusat.

“Berhubung alamat PT nya di Jakarta, kami infokan kasus ini ke PPI pusat agar bisa ditindaklanjuti. Surat Kuasa, formulir pengaduan, dan berkas pendukung lain sudah kami kirim ke pusat,” ungkap Anwar ketika ditanya langkah apa yang akan dilakukan oleh PPI.

Intinya, tambah Anwar, pihak keluarga meminta bantuan kepada PPI untuk bisa membantu mereka dalam kasus tersebut, karena sejak YN ditahan hingga detik ini belum ada informasi perkembangan tentang statusnya dari pemerintah.

“Selain meminta perkembangan informasi, kami juga meminta kepada PPI pusat agar bisa memanggil atau mendatangi PT KMP guna meminta klarifikasi atas kasus tersebut serta bentuk tanggung jawabnya sebagai perusahaan perekrut dan pengirim YN,” pungkasnya.

(IS/IS, 25/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki