Berita > Ekosospol
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) Puji Kinerja Garuda Indonesia
21 Mar 2018 19:37:24 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 841
Ket: Dirjen GACA, Majid Abdullah Abudawood berbincang dengan Konjen Mohamad Hery Saripudin
Foto: KJRI Jeddah/Pensosbud
Madinah, LiputanBMI - Garuda Indonesia (GIA) mendapat apresiasi dari General Authority of Civil Aviation (GACA) atau otoritas penerbangan Arab Saudi sebagai maskapai yang memiliki ketepatan waktu terbang atau on time performance (OTP) cukup baik. Selain itu, GIA termasuk armada angkutan haji yang minim pelanggaran.

Pujian ini disampaikan Dirjen GACA, Majid Abdullah Abudawood, kepada Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah , Mohamad Hery Saripudin, bersama tim dari KJRI Jeddah pada pertemuan di kantornya 12 Maret 2018.

"Tahun lalu sebanyak 1,2 juta jemaah mendarat di Madinah. Kami maksimal melayani 5 penerbangan per jam untuk menghidari penumpukan (jemaah yang tiba). Oleh karena itu, kerja sama baik maskapai sangat penting bagi kami," terang Majid Abdullah.

Konjen menyampaikan, Indonesia dengan jumlah jemaah hajinya terbesar, yaitu 221.000 orang sudah semestinya mendapatkan perhatian tersendiri dari pemerintah Arab Saudi, khususnya pada saat kedatangan jemaah di Bandara Jeddah dan Madinah. Belum lagi, kata Konjen, jumlah jemaah umrah tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 1 juta orang.

Konjen mengusulkan kepada GACA, antara lain, predeparture finger printing atau pengambilan sidik jari jemaah sebelum mereka berangkat ke Arab Saudi. Tujuannya untuk memangkas masa tunggu antrean jemaah yang berdiri di konter imigrasi Bandara Jeddah dan Madinah.

"Para jemaah melakukan perjalanan sedikitnya 10 jam dan harus menunggu lagi setibanya di bandara. Ini proses cukup melelahkan buat mereka. Masukan ini didasarkan pada hasil evaluasi tim kami (KJRI Jeddah) selama penyelenggaraan haji tahun lalu," ucap Konjen.

Selain terbesar dari sisi jumlah, imbuh Konjen, mayoritas jemaah haji Indonesia berusia lanjut yang merupakan usia rentan, lantaran antara lain disebabkan masa tunggu yang cukup lama. Di beberapa daerah bahkan mencapai hingga 40 tahun untuk mendapatkan giliran menunaikan ibadah haji.

Menanggapi usulan tersebut, Dirjen GACA menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya maksimal dalam memberikan pelayanan kepada jemaah, terutama saat kedatangan di bandara.

"SOP bagi petugas imigrasi kami adalah 22 detik (layanan) per jemaah," ucapnya.

Konjen juga menyampaikan usulan agar pihak operator bandara Madinah memasang world clock dan papan informasi atau petunjuk berbahasa Indonesia serta menyediakan tim pemandu berbahasa Indonesia dalam jumlah yang cukup untuk mengarahkan jemaah. Pasalnya sebagian besar jemaah haji Indonesia berasal dari daerah yang tidak memiliki kemampuan berbahasa Arab atau Inggris.

Tim KJRI Jeddah juga menyampaikan permintaan klarifikasi kepada GACA terkait pembatasan jumlah jemaah, yaitu sebanyak 3.800 pax untuk 10 kloter terakhir pada fase-1 (kedatangan) dan 10 kloter pertama untuk fase-2 (pemulangan). Begitu juga, klarifikasi seputar penalty airport service fee yang yang dikenakan kepada Garuda akibat adanya perbedaan antara data manifest penumpang dan jumlah jemaah.

Terkait isu terakhir, GACA Madinah menyarankan agar KJRI Jeddah mengagendakan pertemuan dengan GACA Jeddah.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Konjen didampingi Staf Teknis Perhubungan Amiruddin Muhammad Arsyad, Staf Teknis Urusan Haji-1 Ahmad Dumyathi Bashori dan perwakilan dari Maskapai Garuda Indonesia dari kantor cabang Madinah.

(TTG/TTG, 21/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki