Berita > Seputar TKI
17 Tahun Terlantar di UEA, WNI Bersama Tujuh Anaknya Akhirnya Pulang ke Indonesia
16 Mar 2018 07:23:50 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 14686
Ket: Rokiyah bersama suami dan ketujuh anaknya
Foto: KBRI Abu Dhabi
Abu Dhabi, LiputanBMI - Gembira sekaligus bingung. Itulah yang dirasakan Rokiyah binti Daminah Casman saat ini. Betapa tidak, setelah 17 tahun bekerja dan melanggar batas izin tinggal (overstayer) di Uni Emirat Arab (UEA), akhirnya ia dapat pulang dan berkumpul dengan keluarga tercinta di Tanah Air pada Kamis (15/3/2018).

“Senang karena bisa berkumpul lagi dengan orang tua, keluarga, dan saudara di rumah,” kata Rokiyah saat ditanya bagaimana perasaannya.

“Tapi saya juga bingung karena tidak bisa membawakan oleh-oleh untuk mereka. Keluarga di kampung tahunya saya nikah sama orang Arab, hidup berkecukupan. Padahal kenyataannya, ya seperti ini”, ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Rokiyah Masuk UEA secara resmi pertama kali pada tahun 2000. Ia bekerja sebagai PLRT di Abu Dhabi. Nasib kemudian mempertemukannya dengan warga negara Mesir Ayman Fekri Awad Mekhaiel. Mereka akhirnya menikah secara resmi pada tahun 2001 dan tinggal bersama.

Seiring berjalannya waktu, mereka dikaruniai tujuh orang anak (6 laki-laki dan 1 perempuan) berusia antara 7 bulan hingga 13 tahun. Suami Rokiyah bekerja sebagai ahli bangunan. Ia memiliki keahlian pertukangan, seperti membuat bangunan dari gypsum, desain interior, dan mengecat. Namun, penghasilannya tidaklah cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya yang terus bertambah.

Yang lebih memprihatinkan lagi, tiga anak mereka yang paling besar dan masuk kelompok usia sekolah, tidak dapat mengakses layanan publik, baik pendidikan maupun kesehatan di UEA. Hal ini disebabkan Rokiyah dan suaminya tidak bisa dan tidak mampu membayar izin tinggal dan asuransi kesehatan karena berstatus overstayer.

Sadar dengan kondisi ekonomi keluarga yang tidak terlalu baik dan kondisi rentan yang dialami dirinya dan anak-anaknya, wanita asal Indramayu ini akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Di tahun 2015, wanita yang saat ini tengah mengandung empat bulan tersebut telah melapor diri ke KJRI Dubai dan memperoleh Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Namun demikian, ia tidak memproses lebih lanjut kepulangannya, mengingat anak-anaknya tidak memiliki paspor dan visa, sehingga tidak tercatat dalam sistem keimigrasian UEA.

Sejak tanggal 26 Oktober 2017 KBRI Abu Dhabi telah menangani persoalan keluarga WNI terlantar ini.

“KBRI telah memberikan bantuan kemanusiaan kepada Ibu Rokiyah dan keluarganya, serta mengurus clearance keimigrasiannya agar dapat kembali ke Indonesia,” jelas Yanuar Nasrun, Pelaksana Fungsi Konsuler II KBRI Abu Dhabi yang turun langsung menangani persoalan tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima LiputanBMI, Jumat (16/03/2018).

“KBRI juga telah berhasil mengupayakan penghapusan biaya denda overstay Rokiyah dan keluarganya,” lanjutnya.

Sebagai sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab dan mencintai keluarganya, Ayman, suami Rokiyah, sebenarnya juga ingin mendampingi keluarganya kembali ke Indonesia. Tiket pesawat pun sudah ia pesan atas biaya sendiri. Sayangnya keinginan tersebut pupus.

“Awalnya pihak Imigrasi Abu Dhabi memberikan indikasi positif bahwa Ayman dapat pergi bersama keluarganya ke Indonesia. Namun belakangan, ternyata ada prosedur administarasi yang harus ia ikuti dan selesaikan, dan itu memakan waktu cukup lama. Sehingga ia batal berangkat bersama”, ujar Rokman Nurdi, staf KBRI yang turut mendampingi kepulangan Rokiyah dan keluarga.

Rokiyah dan tujuh anaknya dipulangkan ke Indonesia menggunakan penerbangan Etihad pada Kamis pagi (15/3/2018) waktu setempat. Setibanya di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, Perwakilan BNP2TKI akan memfasilitasi kepulangannya ke kampung halamannya di Indramayu, Jawa Barat.
(IYD/IYD, 16/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki