Berita > Seputar TKI
Bukannya Melindungi, Salah Satu LSM Ini Malah Paksa CTKI Berangkat ke Arab Saudi Sebagai PRT
20 Feb 2018 19:07:34 WIB | Juwarih | dibaca 2544
Ket: ilustrasi
Foto: google
Indramayu, LiputanBMI - Seorang calon tenaga kerja Indonesia asal Indramayu, SAA (30) mengaku dipaksa agar berangkat bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) ke Arab Saudi oleh pihak perekrut dengan menggunakan jasa sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

"Jika saya mundur dan menolak untuk diterbangkan, mereka menuntut saya untuk membayar ganti rugi sebesar Rp 30-40 juta," ujarnya saat ditemui LiputanBMI di kediamannya di Desa Sukagumiwang, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat pada Senin (19/2/2018).

Masih kata SAA, ia dan kedua orang tuanya sudah tiga kali didatangi oleh sponsor maupun oknum LSM TKI ke rumahnya dengan mengintimidasi agar bersedia diberangkatkan ke Arab Saudi.

"Kemarin ada 6 orang yang mengaku dari LSM datang ke rumah, memaksa saya untuk jadi berangkat. Kalau tetap mundur mengancam saya akan dilaporkan ke polisi dengan nada yang sangat keras menunjuk-nunjuk saya dan teman saya sambil menggebrak meja," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pada Oktober 2017 ia dan temannya direkrut oleh Ratu Ilawati alias Bunda Ratu, sponsor warga Jln. Sunan Gunung Jati, Gg. Empang Kertayasa Rt. 004/002 Desa Jatimerta, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat sebagai cleaning servis ke Qatar.

"Saya kan waktu daftar minatnya sebagai cleaning servis ke Qatar, tapi setelah mengikuti proses malah diarahkan untuk bekerja sebagai PRT ke Arab Saudi. Sponsor bilangnya sama saja Qatar dan Arab Saudi. Kamu terima saja lagian kalau di Arab bisa minta pulang walau baru 3 bulan tidak kena denda beda dengan di ASEAN," paparnya sambil menirukan ucapan sponsor.

SAA mengundurkan diri setelah mendapat masukan dari beberapa teman maupun tetangganya yang sudah pernah bekerja maupun yang masih bekerja di Arab Saudi agar tidak jadi berangkat karena banyak TKW yang mengalami masalah.

"Dari cerita dan pengalaman tetangga saya yang pernah jadi TKI di sana katanya banyak TKI yang diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya dan juga katanya pengiriman TKI ke Arab sudah ditutup," tuturnya.

Sementara itu Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) cabang Indramayu, Juwarih mengatakan pihaknya akan mendalami dan mempelajari terlebih dahulu pengaduan dari SAA.

"Dalam waktu dekat kami akan melaporkan pihak perekrut ke BNP2TKI maupun ke Kemenaker untuk mengkonfirmasi dugaan kami, jika pihak perekrut tidak bisa membuktikan dan ditemukan ada unsur pidana maka kami akan melaporkan ke pihak yang berwenang," jelas Juwarih.

Menurut Juwarih, karena proses dimulainya kejadian sebelum disahkannya UU No. 18/2017 tentang PPM, pihak perekrut diduga telah melanggar Pasal 4 jo Pasal 102, UU RI No. 39 tahun 2004 tentang PPTKILN.

Perlu diketahui, pada tahun 2015 Pemerintah Indonesia melalui Mentri Ketenagakerjaan telah mengeluarkan kebijakan berupa KepMen No. 260 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan TKI pada pengguna perseorangan di 19 negara-negara kawasan Timur Tengah.

Di antaranya Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Irak, Kuwait, Lebanon, Libya, Maroko, Mauritania, Mesir, Oman, Palestina, Qatar, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, Yaman, dan Yordania.
(JWR/IYD, 20/02)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki