Berita > Seputar TKI
Berapa Jumlah TKI di Arab Saudi? Duta Besar: Yang Tahu Hanya Allah
16 Feb 2018 19:15:57 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 2598
Ket: Ribuan TKI ikut amnesti di KJRI Jeddah tahun 2013 (ilustrasi)
Foto: Google
Jakarta, LiputanBMI - Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, mengaku tak tahu pasti jumlah WNI yang berada di wilayah kerjanya itu.

Bahkan, pihak Kerajaan Arab Saudi sendiri tak memiliki data rinci terkait jumlah resmi WNI yang masuk ke negara penghasil minyak itu.

Kebijakan moratorium TKI ke Arab Saudi, menjadi salah satu sebabnya. Sehingga, kata Agus, WNI masuk ke Arab Saudi dengan berbagai cara, termasuk dengan ilegal dan membuatnya sulit dideteksi.

"Jumlah WNI kita di Saudi seberapa banyak, yang tahu hanya Allah," ujar Agus di ruang konferensi pers, Palapa, Kemenlu, Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (15/2/2018).

Bahkan, lanjutnya, WNI yang resmi pun meng-ilegalkan diri, agar dapat menentukan harga tinggi, mengingat kebutuhkan pekerja domestik di Arab besar.

"Banyak WNI yang awal bekerja di Saudi secara legal, membuat diri mereka ilegal, karena hal ini dapat membuat mereka mendapatkan bayaran lebih besar. Dengan mengilegalkan diri, mereka bisa menentukan harga harian sendiri," ungkap Agus.

Sebelumnya, Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Mohammad Al Shuibi, sempat meminta Pemerintah Indonesia agar segera kembali membuka keran pengiriman TKI ke Arab Saudi.

Namun, Agus mengungkapkan, kebijakan Indonesia yang menutup pintu pengiriman tenaga kerja ke Arab Saudi, nyatanya tetap saja memiliki kelemahan dan membuat tetap derasnya WNI masuk ke Arab Saudi.

"Modus yang dipakai untuk memasukkan TKI ke Saudi adalah dengan menggunakan visa ziarah. Faktanya enggak pernah ditutup. Saudi punya cara sendiri, punya cara untuk buka pintu itu. Modusnya begini, mereka masuk diberikan visa ziarah selama 90 hari, setelah sampai sana di-convert jadi izin tinggal. Kalau sudah jadi izin tinggal ini bisa 5-10 tahun," papar Agus.

Pria asal Yogyakarta ini meminta agar WNI dapat mematuhi keputusan pemerintah, agar tak masuk secara illegal ke negara dengan konsentrasi TKI terbesar itu.

"Dengan masuk dengan ilegal, langkah itu dapat menimbulkan potensi menyulitkan diri sendiri ke depan," kata Agus.

Source : Warta Kota
(JWD/JWD, 16/02)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki