Berita > Cerpen Puisi
Perihnya Menjadi Orang Ketiga
13 Feb 2018 03:26:51 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2965
Ket: ilustrasi
Foto: LBMI
Jeddah, LiputanBMI - Kehidupan ini adalah masalah memilih, dan waktu itu aku tidak mempunyai pilihan selain harus kabur dari majikan untuk ikut bersama mas Adam.

Sempat terlintas untuk meminta bantuan kedutaan Indonesia, tapi konsekuesinya pasti akan dipulangkan ke Indonesia atau aku dikembalikan ke majikan. Sementara aku harus mencari uang untuk biaya hidup orang tua dan sekolah anak semata wayangku.

Hidup bersama mas Adam menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari, selain tidak mempunyai keluarga, aku tidak mempunyai banyak teman di Jeddah.

Hidup bersama lawan jenis di kamar berukuran 4x3 meter tentulah banyak godaan yang datang. Seperti kata para ustad, maka jika kita berduaan dengan yang bukan muhrimnya, pasti yang ketiganya adalah syetan. Apalagi mas Adam sudah lama tidak menyalurkan hasratnya.

Tapi ajakannya itu selalu kutolak, karena semenjak ditinggal suami meninggal dunia, aku tidak pernah melakukan hal yang dilarang oleh agama.

Mas Adam mengajak aku menikah siri agar hubungan kita halal tidak berbuah dosa. Lagi-lagi aku kembali dihadapkan pada situasi yang tidak bisa memilih. Maka ajakannya aku terima walaupun dia jujur telah mempunyai anak dan istri di Indonesia, tapi aku berpikir pernikahan ini hanya sebatas kawin kontrak saja, jika pulang ke Indonesia maka mas Adam kembali bersama istrinya.

Lagi pula, aku menganggap mas Adam adalah tempat berlindungku dikala aku sakit, mengirimkan uang ke Indonesia dan mencarikan pekerjaan karena statusku overstayer.

“Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” begitulah pepatah jawa mengatakan, cinta akan timbul karena terbiasa bersama. Seperti hatiku yang mulai tumbuh benih cinta dan rasa sayang terhadap mas Adam setelah usia pernikahan kami menginjak setahun.

Kebaikan dan perhatiannya meluluhkan hati ini, meski sebenarnya aku sadar mas Adam bukan milikku seutuhnya tapi rasannya raga ini tak mau berpisah dengannya.

Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, toh baunya akan tercium jua. Sama halnya pernikahanku dengan mas Adam akhirnya terkuak juga oleh istrinya di Indonesia.

Aku paham, wanita mana yang tidak marah jika mengetahui suaminya berbagi hati dengan wanita lain. Cemoohan pelakor dan pelacur dari istri tua aku terima dengan lapang dada. Aku hanya bisa diam tak mau menbalas satu katapun. Karena aku sadar, inilah irisan takdir yang harus kuterima.

Mas Adam, laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tau dia begitu dilema setelah pernikahan ini terbongkar. Ditambah istrinya mengancam akan kabur membawa anak-anaknya jika tidak segera pulang ke Indonesia dan menceraikanku.

Aku hanya bisa menahan sesak di dada, menerima kenyataan harus kehilangan seorang suami yang sangat kusayangi.

Kecupan kening terakhir dari mas Adam sebelum pulang ke Indonesia adalah penyejuk jiwa dikala lubuk hati yang paling dalam meronta-rontak tak mau berpisah.

Aku tak sanggup ingin memberikan kabar bahagia bahwa sebenarnya aku tengah mengandung benih cinta mas Adam. Tapi biarlah, aku tak mau kabar gembira ini justru akan membebani mas Adam.

Aku bertekad akan membesarkan janin ini hingga lahir ke dunia, meski tanpa seorang bapak tapi jabang bayi ini bukan hasil perzinahan.

(IYD/IYD, 13/02)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki