Berita > Seputar TKI
Hingga Meninggal, ABK Cilacap Belum Terima Gaji Dari PT WSI
01 Feb 2018 16:25:33 WIB | Juwarih | dibaca 3155
Ket: KTKLN Korban
Foto: EKTKLN
Jakarta, LiputanBMI - Seorang TKI asal Cilacap yang bekerja disektor ABK belum pernah menerima gaji full dari PT Wahana Samudera Indonesia semenjak dia dipulangkan karena sakit hingga dia menghempuskan napas terakhir pada 8 Juni 2017 lalu.

Demikian disampaikan Dartiatun, pegiat buruh migran dari Comunity Base Organisation Kartini Cilacap, saat menyampaikan pengaduan ke Serikat Buruh Migran Indonesia di Jakarta, pada Kamis (1/2/2018).

"Almarhum Arip Yuwono (24), merupakan warga Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Ia meninggal karena sakit akibat kecelakaan saat mengendarai motor di jalan raya di kepulauan Mauritius, Afrika," ucap Dartiatun saat menyampaikan pengaduannya ke SBMI.

Dartiatun menceritakan, setelah kecelakaan Arip dalam kondisi sakit dipulangkan dari Mauritus pada September 2016, tidak langsung pulang ke kampung halamannya. Akan tetapi terlebih dahulu ke PT WSI untuk menuntut hak-hak yang belum diterimanya.

"Sebelum meninggal almarhum menyampaikan kepada saya, ia mengaku sudah 3 kali bolak-balik dari Cilacap ke Jakarta untuk meminta hak gajinya, namun usahanya selama hampir 9 bulan hak gajinya belum juga terpenuhi hingga akhirnya ia meninggal dunia," jelas Dariatun.

Dartiatun meneruskan, almarhum juga pernah mengatakan bahwa ia sempat menghubungi perusahaan kapal ikan Feng Guo, kapal yang ia kerja sebagai ABK, namun informasi yang ia terima bahwa pihak Feng Guo sudah mentransfer uang gajinya ke pihak PT Wahana Samudera Indonesia.

"Informasi yang sama juga diterima oleh korban lainnya yaitu Epi Chandra dari Palembang dan Yunus Akbar dari Tangerang," katanya.

Gaji Arip yang belum dibayar dalam kontrak kerja selama 2 tahun menurut Dariatun sekitar Rp. 86,5 Juta, dengan rincian gaji tahun pertama USD 330/bulan, gaji tahun kedua 350/bulan ditambah uang jaminan sebesar USD 600.Ia hanya menerima uang gaji yang dibayar di kapal sebesar USD 50/bulan.

Sementara itu menurut Hariyanto, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia, jika demikian ada dugaan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh PT WSI antara lain, dugaan penggelapan, perampasan paspor, penempatan tidak prosedur karena tidak dilatih, membuat buku pelaut tanpa sertifat Basic Safety Training Fisherman.

"Bahkan, pelanggaran Undang Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang," pungkasnya.
(JWR/IYD, 01/02)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki