Berita > Cerpen Puisi
Engkau Berhak Bahagia Bersamanya...
19 Jan 2018 22:55:42 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 839
Ket: ilustrasi
Foto: LBMI/Arie
Abha, LiputanBMI - Hujan deras yang disertai petir di malam itu seolah menggambarkan luapan amarahku pada Kang Asep yang tidak mengizinkanku untuk pergi ke Arab Saudi jadi TKI.

"Kita harus bersyukur Neng dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Kebahagiaan bukan diukur dari materi saja," kata itulah yang diucapkan Kang Asep ketika aku nekat mengutarakan keinginanku mencari rezeki di negeri orang.

Dua tahun menikah, kehidupanku dan Kang Asep tergolong cukup sederhana. Kami menempati rumah kecil pemberian orang tua Kang Asep. Penghasilan Kang Asep sebagai buruh bangunan setiap bulannya hanya untuk cukup untuk makan kami berdua.

Dengan alasan ingin merubah hidup yang lebih baik, akupun kabur ke rumah orang tuaku. Mungkin dengan cara ini Kang Asep akan mengizinkanku menjadi TKI, toh ini juga demi masa depan kami berdua. Kebetulan kedua orang tuaku mendukung cita-citaku.

"Assalamualaikum" suara Kang Asep mengucapkan salam menghampiri rumah kedua orang tuaku.

Aku pun langsung berbisik ke Ibu agar memberitahu bahwa aku sudah berangkat daftar ke PJTKI.

"Waalaikum sallam Sep," sahut Ibu menjawab salam Kang Asep.

"Imas pergi dari rumah Bu, kemarin dia minta izin untuk jadi TKI ke Saudi, tapi tidak saya izinkan, mungkin dia marah sama saya. Barangkali Imas ada di sini?" tanya Kang Asep.

"Imas sudah pergi ke PJTKI dibawa sponsor. Memangnya kenapa kamu tidak mengizinkan, apakah kamu sudah bisa membahagiakan anak saya. Kalau kamu tidak bisa membelikan apa-apa makannya jangan sok-sokan melarang istri mencari uang," timpal Ibu dengan nada tinggi.

Mendengar jawaban itu Kang Asep hanya tertunduk lesu dengan mimik muka yang amat sedih. Aku hanya bisa melihatnya di balik tirai jendela. Sebenarnya hati ini tidak tega melihatnya, namun apa daya, aku juga ingin hidup seperti orang lain yang mempunyai rumah bagus, kendaraan dan perhiasan.

Aku pun lantas mendaftarkan diri ke sebuah PJTKI. Hanya proses dua minggu akhirnya aku terbang ke Abha yang wilayahnya sangat dingin.

Menjadi TKI ternyata tidak semudah yang dipikirkan, rumah majikan begitu besar dan anak-anaknya banyak membuat badanku kurus karena kurang tidur dan capek kerja.

Majikan perempuan cerewetnya minta ampun, tetapi setiap meminta gaji selalu dijawabnya nanti dan nanti.

Penderitaan ini berlangsung selama tiga tahun, sehabis kontrak pun majikan tidak mau memulangkanku.

Mungkin ini balasan apa yang telah aku lakukan terhadap kang Asep. Saat mengingat wajahnya air mata ini selalu menetes mengingat kebaikan Kang Asep.

Dia memang tidak bisa membahagiakanku dengan harta, tapi tanggung jawab dan perhatiannya sebagai seorang suami begitu besar. Kala aku sakit, kang Asep selalu memijit kakiku hingga aku terlelap tidur.

Tapi saat ini dikala raga sangat lelah dan batin amat ersiksa tidak seorang pun yang memperdulikan nasibku. Apalagi majikan, walau aku sakit tetap harus bekerja melayani semua kebutuhannya.

Saat majikan liburan ke luar negeri, aku memberanikan diri kabur ke konsulat Indonesia di Jeddah. Mungkin hanya ini jalan agar aku bisa pulang ke Indonesia.

Sebulan lamanya aku ditampung di shelter KJRI Jeddah menunggu proses kepulangan dan pembayaran gaji dari majikan.

Hingga hari itu tiba aku dipulangkan ke Indonesia, hanya wajah kang Asep yang selalu terbayang. Tak tahan rasanya memendam rindu ini, ingin sekali memeluk tubuhnya dan mencium tangannya meminta maaf.

Setelah tiba di Indonesia, aku memutuskan untuk langsung ke rumah kang Asep, tidak ke rumah orang tuaku.

Sekira pukul 22:00 malam, aku tiba di depan rumah suamiku diantarkan mobil travel. Perlahan kaki ini melangkah diiringi rintik gerimis, sambil melihat pelataran depan rumah yang penuh dengan kenangan. Aku tak tahu harus mengucapkan apa ke kang Asep, suami yang pernah kutinggalkan karena ambisi dunia.

Saat tiba di depan pintu, aku mendengar suara anak kecil menangis. Penasaran pun terbesit dalam pikiranku, siapakah anak itu, apakah mungkin anak kang Asep atau..., ah entahlah yang penting aku harus bertemu kang Asep.

"Assalamualaikum, kang...kang..." panggilku sambil mengetuk pintu.

"Waalaikum sallam," tibalah seorang lelaki yang selama ini aku rindukan menjawab salamku.

Baru saja membuka pintu, aku langsung memeluk tubuh kang Asep sambil histeris menangis.

"Maafkan Imas kang. Maafkan Imas yang sudah meninggalkan akang,"

Kang Asep hanya terdiam. Lalu munculah seorang perempuan dengan menggendong bayi.

Pekikan tangisan itupun seketika terhenti, aku langsung melepaskan pelukan dan menghapus airmata yang masih mentes deras.

"Siapa ini kang? Apakah ini anak dan istrimu?

Lagi-lagi kang Asep terdiam tak mau menjawab.

"Kamu tega kang. Dan kamu dasar pelakor perebut suami orang. Apa kamu tidak memperdulikan perasaan sesama perempuan," tanganku sambil menunjuk muka perempuan yang berada di belakang kang Asep.

"Maafkan akang, Imas. Ini semua bukan salah Winda, dia bukan perempuan yang merebut suami orang. Kami menikah setelah orang tuamu meminta akang menceraikanmu," jawab kang Asep terbata-bata tapi begitu tegas.

"Akang beberapa kali datang ke rumah orang tuamu menanyakan kabar Imas. Tapi apa jawaban orang tuamu, hanya perceraian yang dia minta. Bukankah harta yang kamu cari, bukankah dulu kamu bilang bahwa akang tidak bisa membelikanmu apa-apa. Maka inilah jalan hidup akang sekarang bersama perempuan lain yang bisa menerima akang apa adanya," lanjut kang Asep menerangkan.

Mendengar penjelasan itu, batin ini terasa sakit teriris. Sakit bukan karena disakiti, tapi sakit penuh penyesalan. Sesal karena sudah mengecewakan dan menelantarkan suami yang mencintai dan menyayangiku.

Aku sadar, mungkin kang Asep berhak bahagia bersama perempuan lain yang mampu menerima apa adanya.
(IYD/IYD, 19/01)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki