Berita > Seputar TKI
Tolak Diskriminasi, EOC Ajak BMI di Hong Kong Pahami Undang-undang Diskriminasi Ras
27 Dec 2017 10:38:22 WIB | Wijiati Supari | dibaca 863
Ket: Florence dari EOC
Foto: LBMI
Hongkong, LiputanBMI - Buruh migran sangat rentan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari  orang-orang di sekitarnya. Bahkan, tak sedikit perlakuan tersebut justru dilakukan oleh majiakan BMI itu sendiri.

Hal ini disampaikan oleh Florence dari Equal Opportunities Commission atau Komisi Persamaan Kesempatan pada perayaan hari jadi Indonesian Migrant Worker's Union (IMWU) Hong Kong, Minggu ( 24/12/2017).

Undang-undang diskriminasi ras di Hong Kong, menurut Florence,  telah diberlakukan sejak  Juli 2009. Undang-undang ini mengatur  perihal pelarangan diskriminasi, pelecehan dan penghasutan kebencian atas dasar ras siapa pun yang tinggal di Hong Kong.

Menurut Florence, ada 4 poin undang-undang diskriminasi yang wajib diketahui oleh BMI, yaitu undang-undang diskriminasi jenis kelamin, diskriminasi status keluarga, diskriminasi cacat tubuh, dan undang-undang diskriminasi ras.

“Diskriminasi jenis kelamin itu jika teman-teman didiskriminasikan karena jenis kelamin kita. Karena kita hamil atau tidak, dan juga kita menikah atau tidak. Dan apabila kita mendapatkan diskriminasi, itu adalah tindakan melanggar hukum,” tutur Florence.

“Dan teman-teman di sini juga dilindungi oleh undang-undang anti kecacatan. Jadi jika teman-teman didiskrimasi karena mengalami cacat, sakit, itu juga dilindungi oleh undang-undang anti diskriminasi,” sambungnya.

Jadi, yang dimaksud dengan masalah kecacatan itu, kata Florence,  bukan berarti hanya cacat yang serius. Bahkan, hanya karena penyakit kulit  dan BMI tiba-tiba  diputus kontraknya,  atau pada saat BMI pergi ke restoran lalu  tiba-tiba disuruh pergi oleh pelayan karena mereka mengatakan  tidak melayani non China, itu juga  sudah termasuk dalam tindakan diskriminatif terhadap BMI secara langsung. Jika  hal ini terjadi, bisa diadukan kepada EOC untuk mendapatkan keadilan.

“BMI rentan mendapatkan diskriminasi secara tidak langsung, contohnya ketika majikan menyatakan bahwa di keluarganya makan babi, dan mereka tahu kalau BMI yang beragama Islam tidak makan babi, kemudian majikan terang-terangan mengatakan bahwa BMI tidak boleh memasak makanan yang non babi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Florence juga membahas tentang diskriminasi perlakuan pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikan atau salah satu anggota majikan yang tinggal di rumah BMI bekerja, maka BMI harus segera melapor ke EOC.

Pelecehan seksual, lanjut Florence, bukan berarti tindakan yang sangat serius, tapi apapun yang berkaitan dengan itu, misalnya menggunakan bahasa yang mengandung unsur seks, mesti dia tidak menyentuh BMI, itu bisa disebut sebagai tindakan pelecehan seksual.

Selain di atas, BMI juga dilindungi oleh undang-undang yang mendiskiminasi tentang keluarga, sebagai contoh, dia menyampaikan misalnya BMI selalu dikoplain selalu memperhatikan keluarga di Indonesia, dan hal ini juga BMI juga berhak untuk mendapatkan keadilan.

“Yang terakhir adalah undang-undang diskriminasi yang terkait dengan ras, jika teman-teman mendapatkan perlakuan diskriminasi karena ras, karena kita orang Indonesia, karena kita orang China dan sebagainya itu adalah perlakuan yang melanggar hukum di Hong Kong,” paparnya.

Untuk pertanyaan seputar undang-undang diskriminasi atau ingin melaporkan kasus terkait tetapi masih belum faham caranya, Florence mempersilakan siapa saja untuk menghubungi hotline EOC di nomor 2511 8211. Atau datang ke kantor EOC di  19/F Cityplaza Three, 14 Taikoo Wan Road, Taikoo Shing. Buka setiap hari Senin sampai Jumat pukul 08.45 sampai pukul 17.45 sore. Apabila dibutuhkan EOC juga bisa menyediakan penerjemah dalam Bahasa Indonesia.
(WSP/RED, 27/12)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki