Berita > Seputar TKI
Menangkan Gugatan Perdata, Erwiana Ajak BMI Berani Bersuara
24 Dec 2017 14:12:47 WIB | Wijiati Supari | dibaca 736
Ket: Erwiana
Foto: LBMIHK
Hongkong, LiputanBMI - Erwiana Sulistyaningsih mantan buruh migran Indonesia di Hong Kong asal Ngawi, Jawa Timur, berhasil memenangkan gugatan perdata ganti rugi sebesar HK $ 809.430 atas tindak kekerasan yang dilakukan mantan majikannya.

Dia menyambut gembira atas keputusan hakim Winnie Tsui Wan-wah. Hal ini disampaikan kepada LiputamBMI pada Sabtu (23/12/2017) di Selter Bethune House, Jordan.

“Perasaanku senang, pastilah, perjuangan yang begitu panjang menunggu 3 tahun pada akhirnya hakim memberikan keputusan yang baik,” tutur Erwiana.

“Harapannya tidak ada lagi BMI yang disiksa majikannya, dan majikan di sini mulai membuka mata dan hati nurani, biar nggak semena-mena terhadap PRT,” tambahnya.

Erwiana, pada kesempatan tersebut juga menyampaikan pesan kepada BMI yang mengalami menyiksaan untuk tidak takut bersuara.

"Jangan takut bersuara, jika tidak bersalah, jangan mengalah, kudu berjuang, kudu ngoyo, karena keadilan nggak bisa diberikan begitu saja, harus bersama-sama diperjuangkan, dan tidak bisa dilakukan sendiri,” ungkap Erwiana.

Untuk menempuh keadilan, Erwiana menambahkan tidak bisa dilakukan sendiri karena posisi di Hong Kong sebagai buruh migran.

“Meskipun pemerintah mengagung-agungkan BMI sebagai pahlawan devisa, tetapi pada kenyataannya tidak dihargai, saya harap kasus saya ini bisa membuka mata mereka yang masih tertutup. Supaya mereka itu bisa memahami kita ini pemasok devisa terbesar setelah migas, harusnya kita lebih dihargai, hak kita dipenuhi, bukan hanya kita saja, tetapi keluarga kita yang di rumah juga ketika ada masalah mudah untuk mengakses keadilan,” tambah Erwiana.

Lebih lanjut, Erwiana mengaku banyak mengalami rintangan selama menunggu sidang, pada awalnya, dia juga mengalami berbagai intimidasi, baik dari pemerintah sendiri, agen, dan yang paling berat menurutnya adalah intimidasi dari majikan melalui pengacaranya di persidangan, serta banyaknya hujatan dari orang-orang yang tidak menyukainya di media sosial juga sempat melemahkan semangatnya.

Tekanan dari pemerintah, menurut Erwiana, kemungkinan kasusnya cukup besar dan telah terekspos oleh media baik nasional maupun international, hal ini yang membuat pemerintah malu.

“Jadi mereka merasa malu, merasa ingin bertanggung jawab, tetapi saya sudah memilih bersama Mission For Migrant Workers dan organisasi sejak awal, sedangkan mereka ingin membantu kasus saya, tapi caranya sangat memaksa, itu yang saya tidak suka  dan membuat saya tambah tertekan lagi, apalagi diancam saat pertama kali ke sini (Hong Kong) KJRI dan kepolisian Hong Kong akan memulangkan saya ke Indonesia," kenangnya.
(WSP/RED, 24/12)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki